Resep Jitu Membaca Puisi

Membaca puisi perlu keseriusan, kekhususan, dan pengorbanan, dengan proses berlatih yang terus memerus. Puisi akan terasa gelap jika kita belum bisa mengakrabinya. Puisi akan menjadi terang jika kita bisa menguak misterinya. Ada banyak jenis puisi dan masing-masing harus dikekati dengan cara yang berbeda-beda. Ada puisi yang berisi cerita tentang sesuatu yang bernada menggurui, mencaci, merayu, merengek, menyindir, dan mengajak sesuatu, ada puisi yang hanya berisi luapan perasaan, ada puisi yang melukiskan suasana, ada puisi yang berisi gagasan/ajaran, ada puisi yang sarat ide-ide abstrak, ada puisi yang penuh permainan irama.

Membaca karya sastra (puisi) bukan sekadar membaca, tetapi membaca dengan sungguh-sungguh, dengan empati, dengan kegairahan, sampai ia menemukan pengalaman pengarang di dalam karangannya. Pembaca memperoleh kenikmatan, dan pada akhirnya ia merasa perlu untuk memberikan penghargaan yang layak terhadap karya sastra.

Membaca sastra pada umumnya  mengacu pada dua tujuan pokok, yakni (1) membaca untuk diri sendiri dan (2) membaca untuk orang lain. Dalam proses pembacaan sastra, pembaca  memperoleh peran yang sangat dominan untuk menghidupkan sastra agar dapat dinikmati oleh orang lain. Artinya, pembacalah yang paling banyak melakukan kegiatan pembacaan sastra. Pembaca puisi berupaya mengungkapkan suatu ide dengan perantaraan bunyi-bunyi bahasa yang indah dan mengesankan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan seseorang jika akan membaca puisi.

Hal-hal apa saja yang harus diperhatikan oleh seseorang jika akan  membaca puisi?

Pertama, pemanfaatan alat ucap. Setiap orang yang normal memiliki alat ucap. Yang menjadi masalah ialah begaimana pembaca puisi dapat memanfaatkan alat ucap secara maksimal dalam membaca puisi secara estetis?. Alat ucap itu dimanfaatkan untuk merealisasikan faktor kebahasaan seperti lafal, intonasi, dan jeda.

Pembaca puisi harus mampu mengucapkan bunyi-bunyi vokal: a,i,u,e,o dan bunyi-bunyi konsonan seperti k,l,m,r,d dan seterusnya sesuai dengan proses kewajaran. Apabila volume suara sudah cukup dan artikulasinya sudah cukup dan sudah tepat, aspek lain yang harus diperhitungkan adalah bunyi pembawaan (performance). Bunyi-bunyi ini didukung oleh bunyi-bunyi kuantitatif: panjang-pendeknya ucapan, keras-lemahnya tekanan, lama- singkatnya ucapan yang umumnya disebut tempo. Peranan subjektif dan kreatif ikut menentukan sukses-tidaknya dalam membaca puisi secara estetis.

Kedua, penguasaan faktor kebahasaan seperti lafal, intonasi, dan jeda. Pelafalan ialah usaha untuk mengucapkan bunyi-bunyi bahasa, baik suku kata, kata, frasa,  maupun kalimat. Pelafalan dalam membaca puisi maksudnya ialah pelafalan bunyi bahasa sesuai dengan jiwa dan tema puisi. Intonasi dalam pembacaan puisi menyangkut ketepatan penyajian tinggi- rendah irama puisi. Irama  ini dapat diperoleh dengan mempertimbangkan berbagai jenis tekanan, yaitu (1) tekanan dinamik (tekanan pada aspek yang ditekannkan), (2) tekanan nada (tinggi-rendahnya pengucapan), dan (3) tekanan tempo (panjang- pendeknya pengucapan).

Ketiga, penguasaan non-kebahasaan (performance) meliputi  (1) sikap wajar dan tenang, (2) gerak-gerik dan mimik, (3) volume suara, (4) kelancaran dan ketepatan . Pembaca puisi yang baik bisa bersikap wajar dan tenang; gerak-gerik dan mimiknya (ekspresi wajah) menggambarkan bahwa ia dapat memahami dan menghayati puisi yang dibacanya; pembaca puisi yang berpengalaman dapat menyesuaikan volume suara dengan tempat, jumlah penonton, dan ada-tidaknya pengeras suara. Kelancaran, kecepatan, dan ketepatan pembacaan puisi dapat mendukung kesuksesan dalam membaca puisi secara estetis. Bagaimana pembacaan puisi yang komunikatif, indah, dan memikat penikmat. Pembaca puisi yang komunikatif minimal harus memiliki tiga hal yakni: (1) penghayatan, (2) pelafalan, dan (3)  penampilan.

1. Penghayatan.

Penghayatan adalah pengalaman batin. Pembaca puisi sebaiknya memahami dan menghayati apa yang dirasakan oleh penyair pada saat menciptakan puisinya, memahami dan menghayati persoalan yang ditulis di puisi, menangkap nada, dan suasana puisi yang dibacanya.

2.  Pelafalan

Pembaca puisi perlu menguasai pelafalan yang meliputi kejelasan  ucapan, artikulasi, kemerduan, dan kesesuaian tekanan dinamik (keras-lemah), tekanan tempo (cepat-lambat), tekanan nada (tinggi-rendah), dan modulasi (perubahan bunyi desah, gesture, dll.), tidak mengkorupsi dan menambah kata.

3.Penampilan.

Aspek penampilan meliputi gerak kecil, gerak besar, dan mimik. Oleh karena itu, untuk mendukung penampilannya, pembaca puisi perlu menciptakan kondisi psikologis seperti pemusatan pikiran, percaya diri, dan memiliki pemahaman yang tepat secara kontekstual. Aspek lain  yang penting dikuasai oleh pembaca puisi adalah aspek dinamis. Aspek dinamis ini lebih sulit diketahui secara langsung oleh pembaca puisi. Aspek dinamis biasanya dipakai untuk membaca persamaan dan perbedaan, perulangan, dan selinagn bunyi yang tampil pada larik-larik puisi. Bagian-bagian yang perlu mendapatkan tekanan dinamis adalah bagian-bagian puisi yang perlu mendapatkan tekanan dinamis adalah bagian-bagian yang perlu mendapatkan intensifikasi pengertian. Lambang-lambang yang menyatakan berbagai perasaan, misalnya bimbang, ragu-ragu ,kepastian, harapan, dan sebagainya direalisir dengan memperkecil aspek dinamisnya, yakni dengan cara melemahkan pembacaan, mengurangi tekanan, melambatkan tempo, dan meninggikan nada pengucapan. Semua ini berkaitan dengan penjiwaan puisi. Jadi resep jitu yang harus dimiliki seorang dalam membaca  puisi yakni: (1) percaya diri, (2) pemahaman, (3) ekspresi, (4) ritme (irama), (5) emosi (perasaan), (6) penguasaan arena, (7) pengendalian pernafasan, (8) pemusatan pikiran, dan (9) penggunaan suara.

 

Penulis: Karyono, S.Pd., M.Hum.

Kepala Kantor Bahasa Bengkulu