Kesuksesan Penyelenggaraan Seminar Nasional Bahasa dan Sastra yang Digagas Kantor Bahasa Bengkulu

Seminar Nasional
Bahasa dan Sastra


Tantangan Penelitian Bahasa dan Sastra Berbasis Kearifan Lokal dengan Persfektif Global

Kantor Bahasa Bengkulu

Bengkulu (12/10/2018) – Era globalisasi yang ditandai dengan arus komunikasi dan informasi yang begitu dahsyat telah membuat sebagian masyarakat merasa lebih hebat dan lebih bangga menyelipkan berbagai kata asing dalam berbahasa Indonesia. Penggunaan istilah-istilah asing dalam setiap aspek kehidupan dianggap sebagai sebuah kemajuan yang harus diikuti. Padahal, istilah-istilah tradisional yang terkandung dalam sastra Indonesia dan daerah memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pembentukan karakter bangsa. Modernisasi telah mengikis budaya lokal menjadi budaya global. Kebudayaan global telah menggerus nilai-nilai moral yang terkandung dalam bahasa dan sastra Indonesia dan daerah. Lebih parahnya lagi, kondisi umum yang menimpa bahasa Indonesia dan daerah di era globalisasi sudah menunjukkan situasi yang memprihatinkan. Banyak bahasa daerah yang mengalami pelemahan posisi dari hari ke hari, sehingga bukan tidak mungin mengalami kecenderungan menuju ke arah kepunahan. Situasi ini menuntut pengambil kebijakan di bidang kebahasaan untuk bekerja lebih keras menyempurnakan dan meningkatkan semua sektor yang berhubungan dengan masalah pembinaan bahasa.

Di satu sisi bahasa Indonesia berkembang semakin pesat. Sementara di sisi lain peluang dan tantangan terhadap penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah semakin besar pula. Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan perubahan sosial yang sewaktu-waktu datang dan menjelma dalam sikap dan perilaku sosial masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Kantor Bahasa Bengkulu menyelenggarakan seminar nasional yang bertajuk “Tantangan Penelitian Bahasa dan Sastra Berbasis Kearifan Lokal dengan Persfektif Global”. Seminar tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu wadah bagi para peneliti dan pemangku kepentingan untuk menghasilkan suatu kebijakan serta kajian-kajian kebahasaan dan kesastraan sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Seminar Nasional Bahasa dan Sastra dibuka secara resmi oleh Plt. Gubernur Bengkulu, Dr. drh. Rohidin Mersyah, M.M.A. pada Senin (8/10/2018). Dalam sambutannya, Plt. Gubernur Bengkulu menyampaikan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia serta menggunakannya dengan baik dan besar. Tantangan pada era kekinian seperti sekarang adalah mengubah kemauan membaca masyarakat yang tinggi kepada daya baca yang juga baik.

Seminar Nasional Bahasa dan Sastra berlangsung dengan lancar selama  dua hari, yaitu 8–9 Oktober 2018 bertempat di Hotel Nala Sea Side, Pantai Panjang Bengkulu. Sebanyak 208 peserta terdiri atas para pakar, peneliti, pendidik dan tenaga kependidikan, sastrawan, budayawan, mahasiswa, atau pun peminat bahasa dan sastra Indonesia dan daerah, baik dari Provinsi Bengkulu maupun dari luar Provinsi Bengkulu, serta pejabat publik mengikuti seminar tersebut. Para peserta cukup antusias mengikuti seminar sejak hari pertama sampai selesai. Antusiasme peserta menjadi preseden positif untuk penyelenggaraan kegiatan serupa di waktu mendatang. Kesuksesan penyelenggaraan Seminar Nasional Bahasa dan Sastra yang digagas Kantor Bahasa Bengkulu merupakan hasil kerja sama yang apik antara pemerintah dan masyarakat yang mencintai bahasa dan sastra Indonesia.