Semua tulisan dari kantorbahasabengkulu

Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Badan Publik di Provinsi Bengkulu (16 Oktober 2017)

Badan publik adalah lembaga pemerintah dan/atau swasta yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat dalam bentuk kebutuhan, baik informasi, jasa, bahkan tempat berkonsultasi. Wujud dari badan publik adalah lembaga eksekutif, legislative, yudikatif, dan badan lainnya yang sebagaian atau bahkan seluruh pendanaan kegiatannya bersumber dari Aanggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), atau bahkan kedua-duanya. Kemudian organisasi nonpemerintah yang berfungsi sebagai pengayom masyarakat pada kondisi-kondisi tertentu, termasuk juga bagian dari badan publik. 

Di Provinsi Bengkulu tercatat lebih dari 75 badan publik yang berfungsi sebagai pelayan masyarakat. Badan publik yang dimaksud merupakan lembaga pemerintah di bawah naungan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Bengkulu ditambah dengan lembaga pemerintah di bawah naungan Pemerintah Pusat tetapi sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Provinsi Bengkulu serta lembaga dan organisasi nonpemerintah yang bertugas dan berfungsi sebagai pengayom dan pelayan masyarakat Provinsi Bengkulu. 
Kantor Bahasa Bengkulu sebagai UPT Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang berfungsi sebagai lembaga kebahasaan dan kesastraan di Provinsi Bengkulu, menjalankan tugas dan fungsi sebagai pengayom masyarakat pada bisang tersebut. Menyampaikan informasi kebahasaan dan kesastraan kepada masyarakat dalam hal ini unsur pemerintah yang ada di Provinsi Bengkulu menjadi tanggung jawab dan kewajiban kami sebagai lembaga pemerintah. 
Pembenahan kebahasaan terutama penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam penulisan naskah dinas pada setiap instansi di Provinsi Bengkulu sangat perlu diperhatikan jika kita merujuk pada UU No.24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangssan. Ini menjadi sangat penting karena instansi publik adalah teladan dan teman masyarakat dalam memberikan pelayanan. Jika semua instansi di Provinsi Bengkulu telah menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan aturan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) maka dengan sendirinya akan berimbas pada penuturan bahasa yang santun karena bahasa yang santun adalah buah dari jiwa yang bijaksana dan hati yang bersih.
Kegiatan penyuluhan kebahasaan ini dilaksanakan selama satu hari pada tanggal 16 Oktober 2017 di Hotel Rafles City, Jalan Pariwisata Panjang, Bengkulu. Ketua Panitia, M.Yusuf, S.Ag. menuturkan bahwa kegiatan diikuti oleh 100 orang peserta utusan dari 35 instansi/badan publik yang dipilih. Kegiatan dibuka oleh Plt. Sekda Provinsi Bengkulu, H.Gotri Suyanto, S.E., M.Soc.Sc.. Narasumber kegiatan ini adalah Drs. Suladi, M.Pd. penyuluh bahasa Indonesia di Badan Pengembangan dan pembinaan Bahasa, Jakarta. Materi yang disampaikan adalah pengetahuan bahasa, bahasa surat dinas, dan bahasa laporan. Kayono, S.Pd., M.Hum., Kepala Kantor Bahasa Bengkulu, menyampaikan materi tentang strategi Kantor Bahasa Bengkulu dalam menyampaikan informasi kebahasaan dan kesastraan kepada msyarakat Bengkulu. (MY)

====

 

KANTOR BAHASA BENGKULU MENYELENGGARAKAN PENYULUHAN BAHASA BAGI INSAN MEDIA MASSA

Kantor Bahasa Bengkulu kembali menyelenggarakan Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Insan Media Massa. Penyuluhan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 17 Oktober 2017, bertempat di aula Hotel Nala Sea Side. Penyuluhan diikuti oleh 30 peserta perwakilan media massa cetak, elektronik, dan daring (online) yang ada di Bengkulu.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Sekretariat Provinsi Bengkulu, Zacky Antoni, S.H., M.H. Materi yang disampaikan dalam penyuluhan sehari tersebut yaitu kebijakan bahasa oleh Karyono, S.Pd., M.Hum., pengetahuan kebahasaan oleh Halimi Hadibrata, M.Pd., dan bahasa jurnalistik oleh Dr. Agus Trianto, M.Pd.
Penyelenggaraan kegiatan Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Media Massa ini adalah wujud silaturahmi antara Kantor Bahasa Bengkulu dengan insan media massa, khususnya di Kota Bengkulu. Kegiatan ini juga bertujuan untuk berbagi pengetahuan tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama di media massa.
Peran media massa atau pers dalam pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia tidak dapat disangsikan lagi. Ia tumbuh dan berkembang menjadi bahasa Indonesia yang dewasa ini kita gunakan. Tanpa peran media massa, bahasa Indonesia tidak akan menjadi bahasa persatuan kita.
Media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Media memiliki peran penting karena berhubungan langsung dengan masyarakat sekaligus menjadi contoh penggunaan bahasa di ruang publik. Media massa adalah faktor utama dan paling efektif serta ampuh untuk mengembangkan sekaligus membina bahasa Indonesia.
Harus diakui masih banyak media massa yang belum menggunakan bahasa Indonesia baku sesuai kaidah. Oleh karena itu, apabila wartawan tidak tepat dalam berbahasa, maka informasi yang sampai ke publik pun akan salah, pembaca atau pendengar pun bisa salah menafsirkannya.
Oleh karena itu, dengan adanya penyelenggaraan kegiatan ini diharapkan akan muncul solusi-solusi terbaik untuk pengembangan bahasa Indonesia melalui media massa di Provinsi Bengkulu. (AKS)

Kemendikbud Siap Sambut Oktober sebagai Bulan Bahasa dan Sastra

Jakarta, Kemendikbud — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada bulan Oktober akan memperingati Bulan Bahasa dan Sastra 2017. Bulan Bahasa dan Sastra diselenggarakan pada bulan Oktober karena berkaitan dengan Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikbud Dadang Sunendar mengatakan, tahun ini mengangkat tema “Majukan Bahasa dan Sastra, Rekatkan Kebinekaan”.

Bulan Bahasa dan Sastra secara rutin diselenggarakan Kemendikbud pada bulan Oktober sejak tahun 1980 sebagai salah satu bentuk memperingati hari lahirnya Sumpah Pemuda, yang menyepakati Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

“Kegiatan yang dilaksanakan selama Bulan Bahasa dan Sastra cukup banyak. Nanti akan dilaksanakan di pusat (Jakarta) maupun di berbagai provinsi di tanah air, sedangkan puncak acaranya akan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober,” ujar Kepala Badan Bahasa Kemendikbud Dadang Sunendar di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu (27/9/2017).

Saat puncak acara Bulan Bahasa dan Sastra pada 28 Oktober tahun lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meresmikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) baru, yaitu edisi kelima dengan 108.000 lema atau kosakata. Kemudian ada juga peluncuran tiga jenis KBBI, yaitu KBBI Cetak (seperti Kamus/Buku), KBBI Daring (dalam jaringan atau online), KBBI Luring (luar jaringan atau offline atau berbasis komputer).

Dadang menuturkan, bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional merupakan bahasa pemersatu bangsa. Bahasa Indonesia juga dapat menghilangkan batas-batas etnisitas bangsa Indonesia dalam berkomunikasi. Selain itu bahasa Indonesia juga mempunyai peran sebagai penghela ilmu pengetahuan yang mampu mewadahi keberagaman macam pengetahuan baik yang berakar dari kearifan nusantara maupun konsep peradaban barat.

Beberapa upaya yang dilakukan untuk memajukan bahasa Indonesia antara lain memiliki peraturan perundangan yang menjaga dan memastikan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sejarah, mengembangkan lema atau kosakata, melakukan pembinaan dan penyuluhan bahasa, dan berupaya menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.

“Bahasa asing di ruang publik dianggap sesuatu yang biasa-biasa saja. Namun, lama-kelamaan rasa nasionalisme kita bisa terputus. Padahal kita mengetahui bahasa kita merupakan salah satu elemen dari Sabang sampai Merauke, yaitu sebagai jembatannya adalah bahasa Indonesia,” tutur Dadang. 

(Febri Rahmayanti/ lenny damayanti /Desliana Maulipaksi)

Sumber : 

Penulis : pengelola web kemdikbud

Sekilas tentang Sejarah Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam Kerapatan Pemuda dan berikrar (1) bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, (2) berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan (3) menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ikrar para pemuda ini dikenal dengan nama Sumpah Pemuda.
 
Unsur yang ketiga dari Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan kedudukannya sebagai bahasa nasional.
Bahasa Indonesia dinyatakan kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945 karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 disahkan sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa Bahasa negara ialah bahasa Indonesia (Bab XV, Pasal 36).
 
Keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 di Medan, antara lain, menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu yang sejak zaman dulu sudah dipergunakan sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) bukan hanya di Kepulauan Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.
 
Bahasa Melayu mulai dipakai di kawasan Asia Tenggara sejak abad ke-7. Bukti yang menyatakan itu ialah dengan ditemukannya prasasti di Kedukan Bukit berangka tahun 683 M (Palembang), Talang Tuwo berangka tahun 684 M (Palembang), Kota Kapur berangka tahun 686 M (Bangka Barat), dan Karang Brahi berangka tahun 688 M (Jambi). Prasasti itu bertuliskan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuna. Bahasa Melayu Kuna itu tidak hanya dipakai pada zaman Sriwijaya karena di Jawa Tengah (Gandasuli) juga ditemukan prasasti berangka tahun 832 M dan di Bogor ditemukan prasasti berangka tahun 942 M yang juga menggunakan bahasa Melayu Kuna.
 
Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa buku pelajaran agama Budha. Bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antarsuku di Nusantara dan sebagai bahasa perdagangan, baik sebagai bahasa antarsuku di Nusantara maupun sebagai bahasa yang digunakan terhadap para pedagang yang datang dari luar Nusantara.
 
Informasi dari seorang ahli sejarah Cina, I-Tsing, yang belajar agama Budha di Sriwijaya, antara lain, menyatakan bahwa di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing:63,159), Kou-luen (I-Tsing:183), K’ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw’enlun (Alisjahbana, 1971:1089). Kun’lun (Parnikel, 1977:91), K’un-lun (Prentice, 1078:19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan (lingua franca) di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu.
 
Perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu tampak makin jelas dari peninggalan kerajaan Islam, baik yang berupa batu bertulis, seperti tulisan pada batu nisan di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380 M, maupun hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.
 
Bahasa Melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara. Bahasa Melayu mudah diterima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antarpulau, antarsuku, antarpedagang, antarbangsa, dan antarkerajaan karena bahasa Melayu tidak mengenal tingkat tutur.
 
Bahasa Melayu dipakai di mana-mana di wilayah Nusantara serta makin berkembang dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai di daerah di wilayah Nusantara dalam pertumbuhannya dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosakata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek.
 
Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antarperkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).
 
Kebangkitan nasional telah mendorong perkembangan bahasa Indonesia dengan pesat. Peranan kegiatan politik, perdagangan, persuratkabaran, dan majalah sangat besar dalam memodernkan bahasa Indonesia. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa Indonesia dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Sumber :

Kantor Bahasa Bengkulu Menyelenggarakan Sosialisasi dan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia bagi Guru SLTA Se-Kota Bengkulu

Kantor Bahasa Bengkulu kembali menyelenggarakan Sosialisasi dan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia bagi Guru SLTA Se-Kota Bengkulu. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 12 September 2017. Pelaksanaan Sosialisasi dan Uji  Kemahiran Berbahasa Indonesia bagi Guru SLTA Se-Kota Bengkulu tersebut bertempat di Aula Hotel Nala Sea Side, Pantai Panjang, Bengkulu.

Peserta berjumlah 50 orang. Peserta terdiri atas guru SMA, SMK, dan MA di Kota Bengkulu. Kegiatan dibuka secara resmi oleh kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bengkulu, Drs. Ade Erlangga, M.Si. Kegiatan tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bengkulu, Dra. Rosmayetti, M.M.

Dalam kegiatan tersebut juga dilaksanakan pengalungan samir dan penyerahan tropi kepada pemenang I Lomba Mendongeng Cerita Rakyat bagi Guru TK/PAUD Pekan Sastra se-Sumatra. Pengalungan samir dan penyerahan tropi tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi yang membawa nama harum Provinsi Bengkulu. 

UKBI termasuk jenis tes kemahiran (proficiency test) untuk tujuan umum (general purposes). Sebagai sebuah tes kemahiran, UKBI mengacu pada situasi penggunaan bahasa pada masa yang akan datang yang akan dihadapi oleh peserta uji.

Materi soal UKBI diejawantahkan dari materi-materi penggunaan bahasa Indonesia lisan dan tulis dalam ranah-ranah komunikasi tersebut. Dalam penggunaan bahasa Indonesia lisan, UKBI mengukur keterampilan reseptif peserta uji dalam kegiatan mendengarkan dan mengukur keterampilan produktif peserta uji dalam kegiatan berbicara. Dalam penggunaan bahasa Indonesia tulis, UKBI mengukur keterampilan reseptif peserta uji dalam kegiatan membaca dan mengukur keterampilan produktif peserta uji dalam kegiatan menulis. Selain menekankan pengukuran terhadap empat keterampilan berbahasa tersebut, UKBI juga mengukur pengetahuan peserta uji dalam penerapan kaidah bahasa Indonesia.

Informasi lengkap mengenai UKBI bisa dilihat di laman UKBI Badan Bahasa Kemendikbud.