Benuang Sakti

Dulu pada masa para Biku, yaitu Biku Bembo, Biku Bejenggo, Biku Sepanjang Jiwo, dan Biku Bermano terjadi musibah yang hebat. Rakyat banyak yang jatuh sakit dan meninggal, kemarau berkepanjangan dan tumbuh-tumbuhan banyak yang mati. Segala usaha sudah dilakukan untuk menghentikan bencana itu tetapi tidak berhasil. Maka dimintalah seorang dukun untuk melihat kejadian itu. Menurut penerawangan dukun, yang menyebabkan terjadinya bencana itu adalah seekor Beruk Putih yang berdiam  di atas sebuah pohon yang besar bernama Benuang Sakti. Apabila Beruk itu bersuara ke mana mulutnya menghadap maka negeri-negeri yang dihadapinya akan mengalami bencana seperti yang mereka alami pada saat itu. Atas mufakat empat petulai sukubangsa Rejang maka batang Benuang Sakti tempat Beruk Putih itu tinggal harus dicari sampai dapat dan ditebang.

Mereka kemudian berpencar mencari Benuang Sakti, sebagian k earah utara, sebagian lagi ke selatan dan seterusnya. Pada akhirnya anak buah Biku Bermano berhasil menemukan Benuang Sakti tersebut. Mereka lalu berusaha menebang batangnya, tetapi anehnya semakin mereka menebas parang, pohon itu akan semakin bertambah besar. Saat itu juga datanglah rombongan Biku Sepanjang Jiwo ke tempat tersebut sambil berkata “Bie pu-ies keme beu-ubeui mesoa, uyo mako betemau” yang artinya “Aduhai, telah puas kami berduyun-duyun mencari, sekaranglah baru menemukannya.”

Maka ditambah dengan bantuan dari rombongan Biku Sepanjang Jiwo mereka bersama-sama kembali mencoba menebang Benuang Sakti tersebut tetapi tidak juga berhasil, bahkan pohon itu semakin lama semakin membesar. Kemudian, tibalah rombongan Biku Bejenggo yang segera turut membantu merebahkan Benuang Sakti tetapi juga tidak mendapatkan hasil. Maka salah seorang anak buah Biku Bermano berkata. “Kita sudah bekerja keras bersama-sama menebang pohon ini tetapi tidak juga mendapat hasil, mungkin karena rombongan Biku Bembo belum sampai.”

Tidak berapa lama setelah kata-kata itu terucap, tibalah rombongan Biku Bembo yang sangat kegirangan karena telah menemukan Benuang Sakti serta melihat seluruh saudara-saudaranya telah berkumpul juga di sana hingga mereka berkata “Pio bah kumu telebong!” yang artinya “Di sini kiranya saudara-saudara berkumpul!” peristiwa inilah yang menjadi asal mula nama Lebong sebagai daerah tempat mereka berkumpul.

Kepada Biku Bembo dan rombongannya diceritakanlah kesulitan mereka dalam menebang Benuang Sakti, maka mereka sepakat untuk bertarak (bertapa) untuk mencari petunjuk cara menebang pohon besar itu supaya roboh. Setelah selesai bertarak maka didapatlah petunjuk bahwa pohon itu akan roboh bila di bawahnya digalang oleh tujuh orang gadis muda yang masih belia. Oleh karena itu, rombongan Biku Bembo yang baru saja tiba dan belum sempat bekerja ditugaskan mencari tujuh orang gadis remaja yang akan dijadikan sebagai penggalang. Setelah ketujuh gadis itu didapatkan, mereka bermusyawarah kembali untuk memikirkan cara supaya ketujuh gadis itu tidak mati tertimpa pohon yang roboh. dalam musyawarah didapatkan hasil bahwa mereka akan menggali parit yang besar untuk melindungi gadis-gadis penggalang itu.

Pekerjaan menggali parit dilakukan secara bersama-sama dan dibagi-bagi pekerjaannya, ada yang bertugas menggali parit, ada yang bertugas membuat penggalang, ada yang bertugas membuat penutup parit, dan ada yang bertugas menyediakan makanan untuk para pekerja. Setelah seluruh pekerjaan itu selesai dan ketujuh orang gadis telah ditempatkan di dalam parit maka mereka mulai menebang Benuang Sakti tersebut, pohon itu kemudian seketika roboh dan tepat menimpa posisi di mana gadis-gadis itu berlindung sehingga mereka selamat dari maut. Beruk Putih yang menunggu Benuang Sakti pun seketika menghilang bersamaan dengan robohnya pohon besar tersebut. Berdasarkan peristiwa tersebut maka para biku memberikan nama petulainya masing-masing sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan ketika bersama-sama menebang Benuang Sakti. Petulai Biku Sepanjang Jiwo dinamakan Petulai Tubei berasal dari kata berubei-ubei yang berarti berduyun-duyun. Petulai Biku Bermano diberi nama Petulai Bermani yang berasal dari kata Beram Manis yang berarti tapai manis. Petulai Biku Bembo diberi nama Petulai Jurukalang yang berasal dari kata kalang berarti galang. Kemudian Petulai Biku Bejenggo diberi namaPetulai Selupuei berasal dari kata berupeui-upeui yang berarti bertumpuk-tumpuk. Sehingga sejak saat itu daerah tersebut dinamakan Lebong dengan Empat Petulai yang menjadi intisari sukubangsa Rejang.