Arsip Kategori: Artikel

Mendongeng Membantu Membentuk Karakter pada Anak

Di abad ini, dunia terbagi dalam dua dimensi ruang, yaitu dunia nyata dan maya. Diperkirakan, dunia maya  berkembang begitu pesat  sejak awal tahun 2000-an dan menurut beberapa pakar diprediksi kehidupan manusia kedepannya akan semakin dinamis. Kondisi ini diperkuat oleh beberapa faktor pendukung seperti gampangnya mengakses sumber informasi dari berbagai media.  

Perbedaan ragam dunia ini pastinya membuat perbedaan sikap yang terjadi di dalam masyarakat. Ketika di zaman dahulu, orang tua biasanya menasihati anak dengan sikap yang tegas dan ditakuti. Hal ini sangat berdampak pada sikap anak yang senantiasa menurut tanpa perlawanan ketika diberi nasehat dan pengajaran dari orang tua mereka. Namun keadaan yang kontradiktif justru terjadi di era yang semakin maju seperti saat ini. Banyak sekali kita jumpai anak-anak yang melakukan perlawanan terhadap nasihat yang diberikan orang tua atau dalam bahasa sederhananya susah diatur dan akan berujung pada sikap anak yang tidak terarah, susah diatur dan melakukan tindakan tanpa mempertimbangkan sebab akibat yang ditimbulkan. Berkata kasar dan sikap yang tidak sopan terhadap sesama merupakan salah satu dampak buruk dari sikap anak pada saat ini. Memang tidak bisa digeneralisasikan kepada semua anak yang terlahir di zaman melinium sekarang, namun beberapa kasus yang terjadi cukup menjadi representasi dari keadaan anak yang tidak baik dalam lingkungan sosial.

Dilansir dari berbagai media pemberitaan baik cetak, elektronik, maupun daring, ada setidaknya dua kasus perundungan (bullying) yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Seorang mahasiswa disabilitas mendapatkan perlakuan deskriminatif dari teman sejawatnya. Hal yang memprihatinkan khalayak ramai ialah pelaku perbuatan perundungan ini merupakan mahasiswa yang dianggap memiliki kecerdaasan intelejensi dan emosional yang baik. Namun mereka justru menunjukkan sikap yang tidak terpuji. Kemudian seorang anak perempuan mendapatkan perlakukan kasar oleh beberapa temannya secara beramai-ramai sehingga membuat anak tersebut jatuh tersungkur ke lantai. Dari pihak korban selain mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan secara fisik tetapi juga menghilangkan kemartabatannya sebagai seorang anak manusia yang memilliki hak dilindungi dan kebebasan untuk hidup secara mental.  Lebih dari itu yang sangat disayangkan adalah perbuatan tersebut dilakukan oleh anak-anak.

Menurut salah seorang pakar anak Indonesia, Abah Ihsan, dalam sebuah acara televisi swasta dia mengatakan bahwa, ada dua faktor utama yang menjadi peran penting dalam pembentukan karakter seorang anak dalam bersikap di lingkungan masyarakatnya. Dua faktor tersebut ialah keluarga dan lingkungan. Beliau menganalogikan seorang anak seperti sebuah perangkat lunak/software. Ketika perangkat tersebut tidak diarahkan dan digunakan dengan baik, pengguna dalam hal ini adalah orang tua, maka mereka akan mencari pengguna/user lain untuk mengoperasikannya. Artinya bahwa ketika anak tidak memiliki pengarahan yang baik dari orang tua, maka anak tersebut akan mencari pengalihan tempat untuk memuaskan hasrat keingintahuan mereka yang tinggi. Jika mendapatkan pengarahan yang baik akan menjadi suatu hal yang bermanfaat bagi anak nantinya, namun jika terjerumus pada hal yang tidak baik maka akan membentuk peribadi anak yang berakhlak tercela. Selain itu juga lingkungan menjadi faktor pendukung pembentuk karakteristik anak. Dengan berada pada lingkungan yang kondusif, baik lingkungan masyarakat nyata ataupun masyarakat maya, akan membentuk karakteristik baik pada anak tersebut.

Menyikapi kejadian ini sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan. Selain mengoptimalkan peran keluarga dan lingkungan juga bisa dilakukan dengan memperkenalkan dan mengajarkan kepada anak tentang nilai luhur yang terdapat pada cerita-cerita dahulu salah satunya yaitu dongeng cerita rakyat. Seperti yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dalam memperingati hari anak yang ke-23 di Jakarta. Beliau mendongeng di atas rumput dan di lapangang terbuka dengan mengumpulkan beberapa anak-anak usia dini dan membawakan sebuah dongeng cerita rakyat salah satunya yaitu Sangkuriang. Ini menjadi sebuah rujukan yang baik bahwa dongeng bisa menjadi alat pengajaran yang baik kepada anak-anak.

Cerita rakyat zaman dahulu selalu memiliki nilai moral dan pengajaran akhlak yang baik di setiap ceritanya. Misalkan cerita rakyat Putri Gading Cempaka. Terdapat nilai moral yang terkandung dan pengajaran akhlak yang baik di dalamnya misalkan seorang anak harus berbakti kepada orang tua, bersikap sopan santun terhadap sesama, dan rela membantu. Hal ini mencerminkan kehidupan dengan akhlak yang baik anak-anak di zaman dahulu kala. Menjadi unggul dalam pembentukan karakter anak bangsa saat ini ialah bahwa kita tetap bisa meniru pola perilaku yang baik para leluhur melalui alur sebuah cerita dongeng.

“Bengkulu Mendongeng” merupakan program kerja Duta Bahasa (Dubas) Bengkulu yang membantu kantor Bahasa Bengkulu dalam menyebarluakan sastra lisan dan tulisan kepada khalayak ramai. Kegiatan rutin yang sudah hampir satu tahun dilakukan tersebut, tidak hanya untuk memperkenalkan sastra kepada masyarakat tetapi juga untuk memberikan pengajaran moral kepada anak-anak melalui media sastra itu sendiri. Dengan memiliki nilai moral yang baik untuk menjadi landasan bersikap anak-anak diharapkan mendongeng cerita rakyat juga bisa memberikan khazanah keluasan berpikir pada anak tentang menjadi seorang individu yang baik yang didapatkan dari pengajaran pengalaman sebelumnya yang terkandung dalam sebuah cerita rakyat.

Pesan yang ingin penulis sampaikan ialah mari kita bekerjasama untuk membentuk karakter dan pribadi anak-anak Indonesia yang baik dan berbudi luhur. Peran orang tua yang memberikan pengajaran dalam lingkungan keluarga akan bekerja maksimal jika didukung oleh peran lingkungan masyarakat yang baik. Pengajaran mendongeng menjadi sebuah alternatif baik yang bisa digunakan sebagai salah satu media pengajaran dan pembentukan karakter anak yang cerdas dan berakhlak mulia. SAYA ANAK INDONESIA, SAYA BERGEMBIRA.

 

Penulis: Muhammad Syahwalan

Duta Bahasa Bengkulu 2015

PARADIGMA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Secara alamiah dan konvensional, bahasa Indonesia terus-menerus mengalami perkembangan, baik pada tataran fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, maupun wacana. Perkembangan itu merupakan reaksi terhadap  perkembangan ilmu, pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya bangsa Indonesia  di era kesejagatan.  Masalah yang dihadapi guru bahasa Indonesia SLTP dan SLTA  adalah bagaimana memutakhirkan kemahiran berbahasa Indonesia dan membelajarkannya kepada siswa secara inovatif dan kreatif agar siswa  mampu bernalar dan berkreasi dalam bahasa Indonesia.  

Hasil konvensi kebahasaan, seperti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang disahkan pada November 2015, Undang-Undang Bahasa No.24 tahun 2009,  dan Pedoman Umum Pembentukan Kata dan Istilah Bahasa Indonesia (PU PKIBI) belum sepenuhnya tersosialisasi di kalangan para guru bahasa Indonesia. Perkembangan mutakhir penggunaan bahasa Indonesia dalam tata surat dinas, bahasa Indonesia di ruang publik, dan bahasa Indonesia dalam karya ilmiah, serta  bahasa Indonesia sebagai  subjek dan sarana pembelajaran di sekolah belum sepenuhnya dipahami secara menyeluruh.

   Sejalan  dengan itu pula, pengembangan kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia pun secara berkala terus-menerus berubah. Pada kenyataan di lapangan, banyak guru bahasa Indonesia yang terlena dengan kesibukan tugas mengajar sehari-hari sehingga tidak mengikuti perubahan kebijakan bahasa nasional, tidak mengikuti perkembangan bahasa Indonesia, dan tidak meningkatan kemahiran berbahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Hal demikian ditunjukkan dengan adanya indikator masih rendahnya nilai hasil UN mata pelajaran Bahasa Indonesia dan masih rendahnya rata-rata nilai UKBI guru-guru bahasa Indonesia, baik guru SLTP maupun SLTA di Kota dan Kabupaten di Provinsi Bengkulu.

Bukan hanya itu, perubahan kurikulum pembelajaran bahasa indonesia yang mengubah paradigma, pendekatan, metode, teknik, dan media pembelajaran pun terbaikan  sehingga tetap bergeming dengan bahasa dan model pembelajaran bahasa Indonesia klasik yang kurang menarik dan tidak menyenangkan siswa.

Pandangan klasik yang masih tetap bergeming di kalangan para guru , di antaranya, pertama, bahasa Indonesia adalah pengetahuan, bukan keterampilan sehingga dalam praktik pembelajaran berbahasa, gurulah yang lebih banyak praktik berbahasa daripada siswanya.  Kedua, membelajarkan bahasa adalah proses mewariskan pengetahuan struktur bentuk bahasa kepada siswa, bukan membentuk pola pikir dengan bahasa Indonesia.  Pada kenyatannya siswa lebih banyak mengahapal bentuk bahasa daripada praktik berlatih membentuk pola pikir kritis dan kreatif menggunakan  bahasa Indonesia sebagai penghela informasi ilmu penegtahuan, teknologi, dan budaya, serta wahana ekspresi diri dan akademis.

Lantas, bagaimana mengubah paradigma pembelajaran bahasa dari pembelajaran klasik yang bersifat hapal-struktural ke pembelajaran bahasa yang fungsional-pragmatik berbasis teks dalam berbagai genre.  Di dalam kurikulum 2013 bahasa Indonesia dikatakan sebagai penghela, wahana, dan pembawa pengetahuan, serta wahana ekspresi diri. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai penghela informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya karena  dengan bahasa Indonesialah  hal-hal tersebut diperoleh melalui proses belajar, baik secara sadar dan terencana di ruang belajar, maupun secara tidak disadari melalui pergaulan sehari-hari dan pengalaman  hidup di luar sekolah. Bahasa Indonesia,  juga menjadi wahana pengetahuan karena bahasa Indonesia dibelajarkan dan dilatihkan  sebagai pembentuk  kemampuan kognitif,  sikap, dan keterampilan berbahasa. Ia dipelajari oleh siswa dan  mahasiswa, atau khalayak sebagai khazanah pengetahuan yang dikuasai secara bertahap dan berkelanjutan.

Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia disadari atau tidak, pada  setiap kesempatan tertentu  diterapkan dalam pemakaian bahasa Indonessia untuk berbagai keperluan komunikasi sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, atau semakin intensif  pemakaian bahasa Indonesianya semakin mahir berbahasa Indonesia. Karena itu, bahasa Indonesia dikatakan pula sebagai pembawa pengetahuan karena pada umumnya berbagai informasi, pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya di Indonesia ditulis dalam bentuk teks atau  disampaikan oleh narasumbernya dalam bahasa Indonesia.  

Pembelajaran bahasa Indonesia bagi siswa berkedudukan sangat penting dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia disebabkan oleh peran bahasa Indonesia yang sangat strategis sebagai bahasa pengantar pendidikan dan bahasa nasional (Politik Bahasa Nasional, 1976:22). Dengan Kurikulum 2013 (K-13), paradigma pengajaran bahasa Indonesia yang berpusat pada guru dan isi materi ajar yang mengutamakan capaian hasil belajar  kemampuan kognitif sudah berubah menjadi paradigma pembelajaran bahasa yang mengutamakan proses dan kebermaknaan hasil belajar. Jargon pembelajaran bahasa yang berlaku sekarang yaitu, “Jangan ajari siswa semata-mata pengetahuan bahasa tetapi belajarkan mereka berbahasa sesuai kebutuhan komunikasi dalam dunia mereka”.  Dunia pendidikan siswa menuntut kemampuan berbahasa  Indonesia yang cermat menaati kaidah kebahasaan dan elok berkesantunan tutur sesuai dengan konteks komunikasi.  Pembelajaran bahasa yang menyeluruh dipandang sebagai proses pembentukan karakter kepribadian yang tercermin dari aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Pembelajaran bahasa Indonesia yang dilaksanakan dengan inovasi dan kreasi yang menyenangkan  dapat memberi siswa kemampuan berbahasa Indonesia yang benar sesuai kaidah bahasa  dan baik menurut etika komunikasinya.

Selain itu, kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia dapat memberi manfaat akademis  bagi  pembelajaran bidang studi lain. Pembelajaran  bahasa Indonesia yang efektif dan efisien  dapat berdampak positif bagi siswa, yaitu menjadikan siswa mahir berbahasa Indonesia, baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam pemerolehan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Siswa yang mahir berbahasa Indonesia cenderung akan lebih mudah dan lebih cepat dalam proses belajar dalam berbagai bidang sehingga berpeluang untuk berprestasi dan berdaya saing tinggi dalam dunia pendidikan dan dunia kerja.

Jika bahasa Indonesia sudah dikuasai, kemampuan bersastra dapat dikembangkan dengan mengolah kata menjadi untaian bentuk dan makna yang indah menyentuh perasaan dan menggugah pikiran. Dengan kalimat lain, kemahiran berbahasa dapat tercermin dari olahan kata dan maknanya sebagai  rangkaian gagasan yang bernalar  ilmiah atau sebagai rangkaian ungkapan perasaan yang indah.

 

Penulis: Oleh: Halimi Hadibrata, M.Pd.

Staf Kantor Bahasa Bengkulu

 

Bahasa Indonesia untuk Anak Indonesia

Bahasa adalah salah satu kemampuan alamiah yang dianugerahkan pada umat manusia. Sedemikian alamiahnya kita bahkan tidak menyadari bahwa tanpa bahasa, umat manusia tak mungkin mempunyai peradaban yang didalamnya termasuk agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa pemahaman mengenai pentingnya bahasa diperlukan karena hampir semua aktivitas manusia memerlukan bahasa. Pemahaman mengenai pentingnya bahasa dapat menjadi acuan untuk melihat serta menempatkan keanekaragaman bahasa di Indonesia secara proporsional. Keanekaragaman bahasa yang ada di Indonesia hendaknya dilihat sebagai sebuah kekuatan. Semakin banyak bahasa yang dikuasai oleh seseorang, maka secara otomatis semakin luas cakrawalanya dalam menatap kenyataan dunia yang multidimensi, karena pada hakikatnya bahasa merupakan jendela untuk melihat dunia.

Berdasarkan sebuah kajian mengenai evolusi bahasa, kemunculan bahasa diperkirakan pada 10.000 tahun yang lalu. Seiring dengan migrasi penduduk, bahasa menyebar keseluruh dunia dan berkembang sesuai dengan kebutuhan penuturnya. Dalam perjalanan waktunya perkembangan itu menghasilkan sekitar 15.000 bahasa. Namun, akhir-akhir ini ini jumlah bahasa yang ada di seluruh dunia menurun drastis. Kini semua bahasa di dunia diperkirakan hanya berkisar sekitar 6.000 bahasa saja (Crystal, 1990).

Dari 6.000 bahasa tersebut, para ahli bahasa sepakat untuk mengelompokkannya menjadi 17 rumpun bahasa, yaitu: (1) Indo-European, (2) Uralic, (3) Altaic, (4) Chukotko-Kamchatkan, (5) Caucasian, (6) Afro-Asiatic, (7) Nilo-Saharan, (8) Niger-Congo, (9) Khoison, (10) Eskimo-Aleut, (11) Na-Dene, (12) Amerind, (13) Dravidian, (14) Sino-Tibetan, (15) Austric, (16) Papuan, dan (17) Australian Aboriginal. Khusus untuk bahasa-bahasa di Indonesia, dapat ditelusuri bahwa bahasa-bahasa yang ada di seluruh Indonesia berasal dari dua rumpun bahasa yang berbeda yaitu rumpun bahasa Austric yang menurunkan bahasa-bahasa Austronesia yang terletak di Indonesia bagian Barat dan rumpun bahasa Papuan yang menurunkan bahasa-bahasa papua atau Non-Austranesia yang terletak di Indonesia bagian Timur.

Walaupun bahasa-bahasa yang terdapat di Indonesia hanya berasal dari dua rumpun, namun Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman bahasa yang sangat tinggi yaitu menguasai sekitar 12% dari semua bahasa yang ada di dunia. Berdasarkan hasil kajianPemetaanBahasaDerah di Indonesia yang telah dilakukan oleh Badan Bahasa (PusatBahasa) tahun 2008 mencatat bahwa Indonesia dengan 724 bahasa daerah menduduki peringkat kedua sebagai surga keanekaragaman bahasa di dunia. Kenyataan ini membuktikan betapa tingginya keanekaragaman bahasa yang ada di Indonesia sekaligus membuktikan bahwa bangsa Indonesia memiliki sejarah perkembangan peradaban yang heterogen serta berada dalam kondisi majemuk yang multikultural.

Menghadapi kenyataan betapa beranekaragamnya bahasa yang ada di Indonesia, pemerintah sebagai pemegang kebijakan pun harus sangat bijak dalam mengambil keputusan. Pemerintah harus memahami bahwa membangun sebuah bangsa yang majemuk bukanlah hal yang mudah, apalagi dalam mengembangkan bidang kebahasaan dan kesastraan. Walaupun, kebijakan pemerintah untuk bidang kebahasaan mempunyai dua kepentingan nasional yang agaknya bersifat kontradiktif seperti kegiatan pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa alat pemersatu dan kegiatan pelestarian bahasa daerah sebagai identitas kebudayaan nasional. Kedua kegiatan ini dapat bersifat kontradiktif, karena jika bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa dikembangkan, secara tidak langsung akan mendesak ruang gerak dan penggunaan bahasa daerah sehingga ruang penggunaan bahasa daerah menjadi terbatas.

Namun, kondisi ini dapat disikapi dengan bijak sehingga akan berdampak baik pada situasi keduanya. Sikap bijak yang dapat kita ambil adalah belajar bagaimana menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi dan kedudukannya. Ketika sebuah bahasa tersebut diperuntukkan kepada kelompok, etnis, atau daerah tertentu boleh saja kita menggunakan bahasa daerah sebagai bentuk pelestarian kita terhadap bahasa daerah. Namun, jika yang menjadi sasaran kita adalah masyarakat Indonesia secara umum maka utamakanlah penggunaan bahasa Indonesia. Begitu juga dengan bahasa asing, gunakanlah jika memang yang menjadi sasarannya adalah orang asing, kalau sasarannya orang Indonesia, gunakanlah bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa sesuai dengan fungsi dan kedudukannya tersebut akan memperkuat posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa serta akan menghindarkan pelemahan posisi terhadap bahasa daerah agar tetap terjaga eksistensinya dan tidak menuju pada arah kepunahan.

 

Penulis: Endang Saputra

Duta Bahasa Bengkulu 2017

 

Budaya Membaca dapat Menghalau Laju Penyebaran Berita Hoaks

Tanggal 1 Juni selalu diperingati sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Ideologi negara yang dirancang dan dibentuk oleh founding father negara kita dan para pahlawan nasional telah melalui jalan cukup panjang hingga terbentuklah lima dasar negara Republik Indonesia yakni Pancasila. Dalam bahasa Sanskerta, panca berarti 5 dan sila berarti dasar. Pembentukan dasar negara ini memiliki satu tujuan  mulia yakni untuk menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa yang terbentang dari Sabang hingga Merauke dan Pulau Miangas hingga Pulau Rote.

Namun belakangan ini terjadi beberapa peristiwa yang membuat marwah pancasila menjadi media pemersatu bangsa tercoreng sehingga membuat keadaan Indonesia sedikit kurang kondusif. Terjadi perang argumen antar warga negara Indonesia itu sendiri yang tidak mencerminkan kedamaian hidup dalam keberagaman. Penyebab dari kejadian ini adalah penyebaran berita hoaks.  Jenderal TNI saat itu, Gatot Nurmantyo, mengatakan bahwa berita hoaks bisa timbulkan perpecahan (beritasatu.com). Ini mengisyaratkan bahwa kehancuran bangsa bukan hanya disebabkan oleh perang senjata namun juga oleh perang saudara melalui berita bohong/hoaks. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hoaks berarti tidak benar; bohong (tentang berita, pesan, dan sebagainya) atau berita bohong  (https://kbbi.kemdikbud.go.id/)

Secara peribadi penulis melihat bahwa faktor penyumbang terbesar dari masifnya penyebaran berita hoaks itu sendiri adalah karena kurangnya minat masyarakat Indonesia untuk membaca. Banyak dari masyarakat Indonesia mungkin tidak menyadari bahwa tingkat kesadaran membaca masyarakat kita terbilang paling rendah dibandingkan dengan negara lain. Inilah masalah dasar yang menyebabkan akhirnya masyarakat tidak bisa memanfaatkan teknologi yang ada. Beberapa hal berikut merupakan penyebab berita hoaks mudah tersebar.

Pertama masyarakat terpancing dengan judul bacaan yang provokatif. Ketika masyarakat kita memiliki perasaan benci terhadap suatu kelompok maka dengan sangat mudah untuk mencari berita dan menyebarkannya melalui telepon genggam atau gawai masing-masing yang bisa diakses sepersekian detik tanpa membaca keseluruhan isi berita yang muncul. Kedua sulitnya membedakan antara berita fakta dan opini belaka. Terkadang penyebaran berita hoaks ini didasarkan untuk memenuhi kepuasan seseorang atau kelompok terhadap kebenciannya pada kelompok tertentu. Hal ini menyebabkan masyarakat kalap, tanpa menyaring, menyebarkan berita yang belum pasti kebenarannya. Ketiga ialah budaya membaca di kalangan masyarakat umum yang rendah membuat mereka dengan mudah menyebarkan informasi yang diterima. Tersulut dengan judul yang provokatif dan kurangnya pemahanan dalam meyaring berita pada dasarnya disebabkan oleh minat baca yang kurang bergairah. Firman Venayaksa, ketua forum taman baca masyarakat, mengatakan bahwa minat baca orang Indonesia rendah karena buku tidak ada di sekeliling kita semua (Mata Najwa, edisi 7 Juni 2017). Bisa ditafsirkan bahwa pada prinsipnya kita kekurangan produksi buku untuk dibaca. Ketika minat baca secara konkret menggunakan buku/majalah dan media cetak lainnya kurang maka akan berdampak pula pada kurangnya keinginan masyarakat untuk membaca keseluruhan informasi yang muncul secara digital.

Namun hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak penyebaran berita hoaks tersebut ialah meningkatkan kesadaran membaca masayarakat kita. Tugas pemerintah hingga saat ini sudah dikatakan maksimal untuk menggerakan minat baca masyarakat Indonesia salah satunya melalui gerakan literasi yang digagas sejak lama namun baru dilakukan implementasinya beberapa tahun belakangan. Lalu kita tidak bisa menutup mata untuk menyerahkan beban secara keseluruhan kepada pemerintah. Beberapa sektor swasta bisa diajak untuk melakukan perbaikan minat baca. Di Jepang misalkan, pemiliki toko buku membuka layanan membaca gratis atau dikenal dengan budaya tachiyomi Artinya masyarakat dibebaskan untuk membaca buku yang disukai walaupun harus membuka sampul buku tersebut. Penjaga toko percaya bahwa semakin banyak yang membaca kemungkinan membeli semakin banyak.(http://www.ikapi.org, 7 Juni 2017). Hal ini sebenarnya bisa diadopsi oleh pemiliki toko buku di berbagai tempat di Indonesia. Dengan membebaskan para pelanggan membaca buku yang dipajang di rak-rak buku akan membuat masyarakat memiliki ketertarikan untuk datang kembali membaca dan bahkan membeli. Sebab membeli buku merupakan investasi yang tak ternilai harganya. Merangkul komunitas kepemudaan untuk membantu menggalakkan gerakan literasi merupakan cara yang solutif untuk menjadi langkah yang bisa diambil. Duta Bahasa, misalnya, bisa menjadi partner untuk membantu melakukan penyebarluasan kampanye membaca kepada khalak ramai. Selain itu kita masyarakat juga harus membiasakan diri untuk mulai meningkatkan kesadaran membaca misalkan menghabiskan satu buku bacaan dalam satu bulan, atau rutin berlangganan media cetak atau digital yang memuat berita yang aktual. Selain itu biasakan untuk membaca dari berbagai sumber agar dapat melakukan perbandingan serta menyaring informasi yang diperoleh Ini bisa menjadi stimulus awal untuk meningkatkan minat baca kita guna mendapatkan informasi yang akurat sehingga seiring berjalannya waktu penyebaran berita bohong/hoaks bisa diminimalisasikan bahkan dihilangkan.

Memperbaiki kesadaran kita untuk membaca berarti memperbaiki taraf hidup kita dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Salah satu hasil positif yang diraih yaitu terciptanya masyarakat yang cerdas dalam menerima berbagai informasi yang datang. Hal ini justru akan berdampak panjang pada meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat dan menciptakan keharmonisan. Sebab peningkatan kesadaran membaca ini akan mengurangi pergesekan yang terjadi di dalam masyarakat itu sendiri salah satu penyebabnya adalah penyebaran berita hoaks. Jika buku adalah jendela dunia, maka membaca membuka cakrawala. Kita Pancasila, Kita Indonesia.

 

Muhammad Syahwalan

Duta Bahasa Provinsi Bengkulu 2015

 

Pedoman Bahasa Indonesia

Penggunaan bahasa Indonesia pada masyarakat, akhir-akhir ini harus dicermati dengan seksama dan bijaksana. Bahasa Indonesia adalah bahasa dengan marwahnya sendri mempunyai aturan dan pemaknaan sendiri pula dalam menafsirkan kata demi kata yang digunakan masyarakat dalam berkomunikasi. Adanya penyaduran kata dari bahasa lain (daerah dan asing) sejatinya membuat marwah bahasa Indonesia semakin kokoh dan sempurna tetapi tentu dengan tata aturan yang ada dalam bahasa Indonesia bukan berdasarkan bahasa yang disadur tersebut. Kondisi ini menjadi dilema ketika penggunaan bahasa saduran oleh masyarakat tetapi tidak dimaknai atau dipahami sesuai dengan konsep kebahasaan yang ada dalam bahasa Indonesia. Pada kesempatan ini  kita akan mebahas beberapa kata yang disadur dari bahasa asing tetapi pemaknaannya masih perlu dijelaskan pada masyarakat pengguna.

  1. Makna kata Jihad

Kata jihad berasal dari bahasa Arab, yaitu Al-Jihadu, yang berarti ‘perjuangan’. Dalam bahasa Indonesia, kata jihad digunakan dalam pengertian sebagai berikut.

  1. Jihad ialah usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kebaikan manusia secara keseluruhan. Contoh penggunaan kata jihad dengan pengertian tersebut dapat dilihat pada kalmiat berikut.
  • Kita berjihad melawan kemiskinan.
  • Demi ketenteraman batin anda, berjihadlah melawan hawanafsu.
  1. Makna jihad yang lain ialah perjuangan membela agama dengan cara mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga. Contok kalimat yang mengandung kata jihad dengan pengertian ini adalah sebagai berikut.
  • Orang yang berjihad di jalan Allah adalah orang berjiwa mulia.

 

  1. Makna kata Hijrah dan Hijriah

Kata Hijrah yang digunakan dalam kalimat seperti Tahun baru Hijrah jatuh pada tanggal 2 Oktober 2016 dan Tahun 1437 Hijrah akan kita tinggalkan, tidaklah tepat. Dalam KBBI kita tidak menemukan kata hijrah dengan makna ‘nama tarikh Islam’, tetapi yang kita temukan makna sebagai berikut

  • ‘pemutusan pertalian Nabi Muhammad SAW. dengan suku bangsa di Mekah ( Nabi Muhammad SAW. menimggalkan Mekah, berpindah ke Medinah.’
  • ‘mengungsi dan berpindah’

Dalam bahasa Arab, cara yang digunakan untuk membentuk adjektiva yang bermakna ‘berhubungan, berkaitan, bertalian dengan kata dasarnya’ adalah dengan menambahkan akhiran –iy (ya nisbah) dan –iyah pada nomina.

  1. Jika kata dasarnya tergolong muzakkar (maskulin)akhiran yang digunakan umumnya akhiran –i. kata Masih, Malik, dan Arab jika diberi akhiran yang menyatakan nisbah masing-masing menjadi Masihi (Masehi) yang berarti (1) ‘yang mengikuti Isa Al-Masih’ dan (2) ‘perhitungan tanggal yang berdasarkan kelahiran Al-Masih’, Maliki yang berarti ‘pengikut’ atau mazhab yang didasarkan atas Imam Malik’, Arabi yang berarti ‘orang yang berbangsa Arab’.
  2. Jika kata dasar muannas (feminine) dijadikan adjektiva dengan pengimbuhan akhiran –iah. Kata hijrah misalnya, menjadi hijriah, yakni nama tarikh Islam yang didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW.; fitrah menjadi fitriah ‘yang berkaitan dengan fitrah’. Disamping itu, terdapat pula kata bentukan dengan akhiran –iah yang dibentuk dari kata dasar muzakkar, misalnya Muhammad, Islam, khilaf dan imsak. Muhammad menjadi Muhammadi(y)ah yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW.; Islamiah ‘yang berhubungan dengan agama Islam’; khilafiah ‘yang berkaitan dengan khilaf (perbedaan pendapat)’; imsakiah ‘yang berkaitan dengan imsak (menahan, istilah yang identic dengan puasa)’.

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa penggunakan kata hijrah yang mengacu ke penanggalan yang didasarkan pada pindahnya Nabi Muhammad SAW. dari Mekah ke Medinah tidak tepat. Bentuk yang tepat untuk itu ialah hijriah. Jadi contoh kalimat di atas seharusnya Tahun baru Hijriah jatuh pada tanggal 2 Oktober 2016 Masehi dan Tahun 1437 Hijriah akan kita tinggalkan. 

             

 Penulis: M. Yusuf, S.Ag.

Pengkaji Bahasa di Kantor Bahasa Bengkulu