Arsip Kategori: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Perpanjangan Waktu Penerimaan Berkas Penghargaan Acarya Sastra Dan Taruna Sastra

Batas waktu pengiriman naskah Penghargaan Acarya Sastra bagi Pendidik dan Taruna Sastra bagi Generasi Muda yang awalnya pada tanggal 10 Mei 2017 diperpanjang sampai tanggal 30 Juni 2017 cap pos.

Informasi lebih lanjut terdapat pada lampiran di bawah ini.
 

Lampiran: 

Badan Bahasa Gandeng KAI untuk Mengutamakan Bahasa Indonesia di Ruang Publik

Berita Dari Badan Bahasa
Jakarta— Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Prof. Dr. Dadang Sunendar didampingi Kepala Pusat Pembinaan, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim beserta jajarannya melakukan kunjungan resmi (audiensi) ke kantor PT Kereta Api Indonesia (KAI), di Jalan Ir. Juanda, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat, 17 Februari 2017.
Dalam sambutannya, Dadang mengatakan bahwa berdasarkan amanat UU Nomor 24 Tahun 2009,  tugas Badan Bahasa adalah menjaga, merawat, dan memartabatkan bahasa negara yaitu bahasa Indonesia. “Kami ingin menguatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, karena inilah salah satu ranah kami dalam hal menyukseskan gerakan revolusi mental,”ungkap Dadang.
“Sebagian besar masyarakat belum mengetahui tentang UU Nomor 24 Tahun 2009, terutama pada  pasal 36—39, ada hal-hal yang diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia. Pada pasal itu disebutkan bahwa nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permukiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang (kecuali merek dagang internasional yang sudah dipatenkan), lembaga usaha, lembaga pendidikan, produk barang atau jasa produksi dalam negeri atau luar negeri yang beredar di Indonesia, rambu umum, penunjuk jalan, fasilitas umum, spanduk, dan alat informasi lain yang merupakan pelayanan umum wajib menggunakan bahasa Indonesia,”ujar Dadang.
Menurutnya, fenomena ruang publik di Jakarta yang banyak menggunakan bahasa asing itu sangat bertentangan dengan Undang-Undang, “Bukan berarti bahasa asing tidak boleh tetapi bahasa Indonesia diutamakan, yang salah itu kalau terbalik, bayangkan kalau kakek-nenek kita datang ke stasiun di Jakarta, kemudian membaca papan petunjuk yang menggunakan bahasa asing, hal itu akan membingungkan, dan  hak masyarakat kita sendiri untuk mengakses ruang publik hilang,” tutur Dadang.
Lebih lanjut, Dadang mengutarakan bahwa investasi dari luar negeri dan dalam negeri tidak akan berkurang hanya karena menggunakan bahasa Indonesia, bahkan kemungkinan bertambah karena yang ingin mereka (investor asing) lihat itu Indonesia yang memiliki rasa Indonesia. “Jadi, begitu mereka datang, informasi ruang publik di Indonesia itu kok berbahasa Inggris, ini Indonesia atau negara jajahan Inggris. Ini yang kita luruskan, perlu diketahui juga bahwa kita tidak anti bahasa asing hanya saja harus sesuai aturan, yaitu dengan mengutamakan bahasa Indonesia. Jangan sampai tertukar bahasa asing dahulu baru bahasa Indonesia, bahkan ada yang bahasa asing semua, terkecuali merek dagang internasional,”ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pembinaan, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim mengungkapkan bahwa pengutamaan bahasa Indonesia itu tidak dimaksudkan sebagai permusuhan terhadap bahasa asing, tetapi Undang-Undang mengamanatkan bahwa bahasa Indonesia harus diutamakan, seperti juga diterapkan oleh negara Jepang, Korea, dan Prancis yang lebih mengutamakan bahasanya ketimbang bahasa asing. “Kami pun siap memadankan istilah asing yang ada di ruang publik khususnya di stasiun-stasiun, seperti “drive thru” kami padankan menjadi “layanan tanpa turun” dan agar lebih ringkas diakronimkan menjadi Lantatur dan “drop zone” dipadankan menjadi “tempat turun”,”ujar Gufran.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Komersial PT KAI, Kuncoro mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan informasi penting yang diberikan. “Kebetulan ini menjadi tanggung jawab saya dalam hal pemberian informasi, kebetulan juga kami sedang merevitalisasi semua nama-nama di stasiun. Jadi, kami akan mencoba mengakomodir hal tersebut secara bertahap,”kata Kuncoro. (an)

Seminar Nasional dan Festival Bahasa Ibu Tahun 2017

 

FESTIVAL BAHASA IBU

Tanggal 21 Februari 2017
Festival Berbicara & Bercerita
        Syarat peserta dan bentuk kegiatan:
  • Peserta festival ini adalah putra/putri daerah berusia antara 7—11 Tahun yang dapat berbicara dan bercerita dengan bahasa daerah serta mampu berbahasa Indonesia.
  • Peserta festival menyiapkan satu cerita rakyat dari daerah tempat peserta berasal dan menceritakannya kembali dalam bahasa daerah sekitar 5—10 menit.
  • Peserta festival akan mewawancarai seorang tokoh dan melaporkan hasil wawancaranya dalam bahasa daerah sekitar 5—10 menit.
  • Peserta festival harus memakai pakaian adat dari daerah tempat asal peserta.
Festival Inventarisasi Kosakata Pakaian Adat
Pelaksanaan festival ini bekerja sama dengan Dharma Wanita Badan Bahasa dan Dharma Wanita Balai/Kantor Bahasa seluruh Indonesia.  Peserta kegiatan ini diharapkan dapat menyajikan pakaian adat khas daerah serta dapat menjelaskan proses pemakaian, nama bahan dan aksesori yang digunakan, serta maknanya dalam bahasa daerah.
SEMINAR NASIONAL
Tanggal 22 Februari 2017
Seminar Nasional Bahasa Ibu tahun 2017 ini bertema “Peningkatan Vitalitas Bahasa Daerah untuk Memperkokoh Bahasa Indonesia”.
Panitia Seminar dan Festival
Pusat Pengembangan dan Pelindungan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Tempat Kegiatan
Gedung Samudra, Lantai 2 
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV, Rawamangun, Jakarta
Narahubung
*Purwaningsih  +6281286888290    
*Devi Luthfiah  +6287885521497