Arsip Kategori: buku

Benuang Sakti

Dulu pada masa para Biku, yaitu Biku Bembo, Biku Bejenggo, Biku Sepanjang Jiwo, dan Biku Bermano terjadi musibah yang hebat. Rakyat banyak yang jatuh sakit dan meninggal, kemarau berkepanjangan dan tumbuh-tumbuhan banyak yang mati. Segala usaha sudah dilakukan untuk menghentikan bencana itu tetapi tidak berhasil. Maka dimintalah seorang dukun untuk melihat kejadian itu. Menurut penerawangan dukun, yang menyebabkan terjadinya bencana itu adalah seekor Beruk Putih yang berdiam  di atas sebuah pohon yang besar bernama Benuang Sakti. Apabila Beruk itu bersuara ke mana mulutnya menghadap maka negeri-negeri yang dihadapinya akan mengalami bencana seperti yang mereka alami pada saat itu. Atas mufakat empat petulai sukubangsa Rejang maka batang Benuang Sakti tempat Beruk Putih itu tinggal harus dicari sampai dapat dan ditebang.

Mereka kemudian berpencar mencari Benuang Sakti, sebagian k earah utara, sebagian lagi ke selatan dan seterusnya. Pada akhirnya anak buah Biku Bermano berhasil menemukan Benuang Sakti tersebut. Mereka lalu berusaha menebang batangnya, tetapi anehnya semakin mereka menebas parang, pohon itu akan semakin bertambah besar. Saat itu juga datanglah rombongan Biku Sepanjang Jiwo ke tempat tersebut sambil berkata “Bie pu-ies keme beu-ubeui mesoa, uyo mako betemau” yang artinya “Aduhai, telah puas kami berduyun-duyun mencari, sekaranglah baru menemukannya.”

Maka ditambah dengan bantuan dari rombongan Biku Sepanjang Jiwo mereka bersama-sama kembali mencoba menebang Benuang Sakti tersebut tetapi tidak juga berhasil, bahkan pohon itu semakin lama semakin membesar. Kemudian, tibalah rombongan Biku Bejenggo yang segera turut membantu merebahkan Benuang Sakti tetapi juga tidak mendapatkan hasil. Maka salah seorang anak buah Biku Bermano berkata. “Kita sudah bekerja keras bersama-sama menebang pohon ini tetapi tidak juga mendapat hasil, mungkin karena rombongan Biku Bembo belum sampai.”

Tidak berapa lama setelah kata-kata itu terucap, tibalah rombongan Biku Bembo yang sangat kegirangan karena telah menemukan Benuang Sakti serta melihat seluruh saudara-saudaranya telah berkumpul juga di sana hingga mereka berkata “Pio bah kumu telebong!” yang artinya “Di sini kiranya saudara-saudara berkumpul!” peristiwa inilah yang menjadi asal mula nama Lebong sebagai daerah tempat mereka berkumpul.

Kepada Biku Bembo dan rombongannya diceritakanlah kesulitan mereka dalam menebang Benuang Sakti, maka mereka sepakat untuk bertarak (bertapa) untuk mencari petunjuk cara menebang pohon besar itu supaya roboh. Setelah selesai bertarak maka didapatlah petunjuk bahwa pohon itu akan roboh bila di bawahnya digalang oleh tujuh orang gadis muda yang masih belia. Oleh karena itu, rombongan Biku Bembo yang baru saja tiba dan belum sempat bekerja ditugaskan mencari tujuh orang gadis remaja yang akan dijadikan sebagai penggalang. Setelah ketujuh gadis itu didapatkan, mereka bermusyawarah kembali untuk memikirkan cara supaya ketujuh gadis itu tidak mati tertimpa pohon yang roboh. dalam musyawarah didapatkan hasil bahwa mereka akan menggali parit yang besar untuk melindungi gadis-gadis penggalang itu.

Pekerjaan menggali parit dilakukan secara bersama-sama dan dibagi-bagi pekerjaannya, ada yang bertugas menggali parit, ada yang bertugas membuat penggalang, ada yang bertugas membuat penutup parit, dan ada yang bertugas menyediakan makanan untuk para pekerja. Setelah seluruh pekerjaan itu selesai dan ketujuh orang gadis telah ditempatkan di dalam parit maka mereka mulai menebang Benuang Sakti tersebut, pohon itu kemudian seketika roboh dan tepat menimpa posisi di mana gadis-gadis itu berlindung sehingga mereka selamat dari maut. Beruk Putih yang menunggu Benuang Sakti pun seketika menghilang bersamaan dengan robohnya pohon besar tersebut. Berdasarkan peristiwa tersebut maka para biku memberikan nama petulainya masing-masing sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan ketika bersama-sama menebang Benuang Sakti. Petulai Biku Sepanjang Jiwo dinamakan Petulai Tubei berasal dari kata berubei-ubei yang berarti berduyun-duyun. Petulai Biku Bermano diberi nama Petulai Bermani yang berasal dari kata Beram Manis yang berarti tapai manis. Petulai Biku Bembo diberi nama Petulai Jurukalang yang berasal dari kata kalang berarti galang. Kemudian Petulai Biku Bejenggo diberi namaPetulai Selupuei berasal dari kata berupeui-upeui yang berarti bertumpuk-tumpuk. Sehingga sejak saat itu daerah tersebut dinamakan Lebong dengan Empat Petulai yang menjadi intisari sukubangsa Rejang.

Si Jago Setahun

Si Jago Setahun

Si Jago Setahun adalah Tuei Kutei Anggung Cawang Lekat yang bergelar Bagindo Segentar Alam, beliau merupakan Rajo yang bijaksana dan tegas dalam menjalankan hukum adat di Cawang Lekat. Jago Setahun adalah orang yang bertubuh tinggi, besar, dan gagah. Seseorang yang sakti dan berilmu tinggi. Salah satu kesaktiannya adalah ia mampu berpindah tempat dalam satu langkah saja sehingga ia juga dijuluki Si Picang Ja’ang, setiap pijakan telapak kakinya antara yang kiri dan kanan dapat berjarak berkilo-kilo meter jauhnya.

Pada saat itu pasukan Jago Setahun adalah pasukan yang sangat disegani dan dihormati karena kekuatannya dalam berperang. Jago Setahun mendapatkan kesaktiannya itu dengan bertapa, apabila ia pergi bertapa maka ia akan bertapa selama satu tahun, apabila ia terbangun maka ia akan terbangun selama setahun. Apabila ia bertapa yang seperti tertidur, maka tidak ada seorang pun yang dapat membangunkannya, ia tidak makan dan tidak minum serta tidak akan terbangun sebelum waktunya.

Bila Jago Setahun sedang dalam masanya tertidur selama dua belas purnama seluruh pengawal setianya akan bersiap menjaga Jago Setahun dan Cawang Lekat.  Jago Setahun juga memiliki tubuh yang kebal dan tidak bisa tergores senjata tajam, ia juga tidak hangus dibakar api. Kesaktian dan kekuatannya inilah menjadikan Jago Setahun sebagai pemimpin yang mampu melindungi rakyatnya.

Masa itu daerah Marga Selupu dan sebagain besar wilayah di Rejang Lebong tidak dipengaruhi oleh kekuasaan pemerintah kompeni Inggris (EIC) yang berpusat di Bengkulu juga tidak dipengaruhi oleh pemerintah Hindi Belanda yang berkedudukan di Palembang. Kedua kekuasaan penjajah ini tidak mempengaruhi kekuasaan Depati Tiang IV baik di Lebong maupun di Batu Lebar Anggung Cawang Lekat karena dipengaruhi oleh letaknya yang strategis dan kondisi alam yang berbukit-bukit, dikelilingi hutan belantara sehingga sulit dijangkau oleh para penjajah.

Suatu ketika pasukan tentara Belanda yang dipimpin oleh Kapten De Leau membawa perbekalan untuk diantar ke Pos Belanda di daerah Keban Agung dekat Dusun Tertik, ternyata mereka dihadang dan dihancurkan oleh pasukan Depati Tiang IV. Bagindo Segentar Alam terlibat dalam pertempuran itu yang mengakibatkan seorang pembesar Belanda tewas sehingga memicu dendam di pihak Belanda untuk juga menghancurkan Depati Tiang IV khususnya Bagindo Segentar Alam.

Pasukan Belanda kemudian merencanakan penyergapan Bagindo Segentar Alam, mereka kemudian melakukan perjalanan yang cukup jauh melewati aliran Sungai Musi menuju Cawang Lekat yang terletak di dataran tinggi hulu Sungai Musi. Setibanya di sana, ternyata rakyat Cawang Lekat sudah bersiap akan kedatangan musuh. Terjadilah pertempuran sengit karena rakyat laskar Cawang Lekat cukup tangguh, mereka juga memiliki benteng alam yang kokoh dan menyulitkan langkah musuh karena tidak menguasai medan perang. Bentang alam mereka terbuat dari hutan bambu dan pohon salak berduri yang sangat rapat hingga seekor ayam pun tidak dapat melintasinya, daerah yang berbukit-bukit juga semakin mempersulit langkah pasukan Belanda ditambah kekuatan Bagindo Segentar Alam yang sangat luar biasa berhasil memukul mundur pasukan Belanda.

Kekalahan tersebut tidak dapat diterima bergitu saja oleh pasukan Belanda, mereka kemudian mengatur siasat untuk mengalahkan pasukan Cawang Lekat. Mereka kemudian mencari informasi kemudian didapatkan lah strategi untuk menunggu saat Bagindo Segentar Alam sedang tertidur dalam pertapaannya. Mereka juga mengatur siasat untuk merobohkan benteng alam Cawang Lekat yang sangat kokoh itu. Ketika tiba masanya Bagindo Segentar tertidur pasukan Belanda pun datang kembali ke Cawang Lekat. Mereka lalu menyebarkan koin-koin emas di sekitar benteng alam Cawang Lekat.

Melihat emas-emas tersebut, rakyat Cawang Lekat lalu tertipu. Tanpa berpikir panjang mereka lalu menebas habis pohon-pohon bambu dan salak yang selama ini menjadi benteng alam mereka untuk memungut koin-koin emas. Melihat jalan telah terbuka lebar pasukan Belanda lalu menyerang dengan mudah, rakyat Cawang Lekat yang sedang lengah tersebut tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti sehingga pasukan Belanda berhasil masuk ke dalam kutei. Mereka lalu menghampiri Bagindo Segentar Alam yang sedang tertidur dan mencoba mengangkatnya. Anehnya, tubuh Bagindo Segentar Alam terasa sangat berat dan seolah-olah menempel di lantai tempatnya berbaring.

Pasukan Belanda kemudian memasang banyak bilah kayu yang disusun menjadi sebuah lintasan untuk menggelindingkan Bagindo Segentar Alam menuju kapal yang mereka naiki untuk dibawa ke Palembang. Sepanjang perjalanan ke Palembang, Bagindo Segentar Alam sama sekali tidak terbangun. Konon pasukan Belanda sempat menyiksa Bagindo Segentar Alam dengan menenggelamkannya di Sungai Musi akan tetapi pada saat itu masa 12 purnamanya sudah habis dan tiba-tiba saja Bagindo Segentar Alam tersentak, ia lalu melihat keadaaan di sekelilingnya dan mengamuk habis-habisan. Kejadian ini konon menyebabkan tanah longsor dan daratan menjadi miring. Setelah menghancurkan armada Belanda tersebut, Bagindo Segentar Alam lalu melarikan diri ke daerah Jambi dan menjadi raja di sana. Konon sesekali Bagindo Segentar Alam pulang ke Cawang Lekat untuk melihat rakyatnya, ia juga akan muncul jika merasakan bumei panes yang merupakan pertanda adanya suatu kejahatan di daerah kekuasaannya. Ia akan menampakkan diri dalam wujud Harimau meskipun kadang-kadang masyarakat hanya bisa melihat jejak kaki Harimaunya berkeliaran di tengah-tengah desa.

Peneliti : Riqqah Dhiya Ramadhanty

Penutur : Sartoni

Persebaran : Desa Cawang, Kabupaten Rejang Lebong

Batu Betiang

Batu Betiang

Pada masa itu ada beberapa orang sakti yang terkenal di daerah Rejang maupun di wilayah  Sumatera bagian selatan. Orang-orang itu dikenal dengan panggilan Si Pahit Lidah yang menguasai wilayah Rejang, Pagar Alam, dan Palembang, juga ada Jago Setahun yang menguasai wilayah  Anggut Cawang Lekat.

Jago Setahun memiliki dua saudara yang dikenal dengan nama Bujang Semamang dalam Bulan yang menguasai wilayah Ulu Musi dan satu lagi bernama Tras Benei yang menjadi hulubalang di Kutei Jago Setahun. Mereka berempat adalah orang sakti dan kuat pada masa itu sehingga memiliki banyak nama dan julukan. Seperti Si Pahit Lidah yang dinamakan demikian

karena apapun yang terucap oleh lidahnya akan menjadi kenyataan.

Jago Setahun adalah orang sakti dari Cawang Lekat yang bila bertapa akan menghabiskan waktu setahun dan apabila terbangun dan berjaga akan menghabiskan waktu setahun.

Wilayah Rejang memiliki dua aliran sungai yang cukup besar, yaitu aliran Sungai Musi dan aliran Sungai Ketahun. Kedua sungai ini berhulu di Pegunungan Bukit Barisan di wilayah Rejang. Sungai Ketahun hulunya terletak di Bukit Barisan dan bermuara ke Laut Bengkulu. Sungai Ketahun memiliki keistimewaan dari sungai-sungai lain yaitu pada muara Sungai Ketahun laut sedikit terbelah karena aliran sungainya yang sangat deras. Hulu Sungai Ketahun berseberangan dengan Hulu Sungai Musi yaitu sama-sama terletak di Bukit Barisan.

Sungai Ketahun memiliki beberapa cabang sungai kecil di antaranya adalah Sungai Sulup yang terletak di Bukit barisan yang alirannya menuju Desa Babakan Baru, Bermani Ulu Raya. Terdapat keajaiban di daerah Rejang yang disebabkan oleh keempat orang sakti ini. Ceritanya seperti ini.

Keempat orang sakti tersebut berteman akrab, suatu ketika mereka sedang berkumpul dan berbincang-bincang di Kutei Jago Setahun. Ketika sedang berbincang-bincang Si Pahit Lidah menyampaikan maksudnya untuk membangun sebuah tebet (bendungan) di aliran Sungai Ketahun sehingga aliran airnya dapat meluap dan merendam Noak Musei. Setelah itu Si Jago Setahun yang gantian bercerita kalau ia ingin membangun sebuah istana yang besar dan megah di Anggut Cawang Lekat. Sedangkan Si Bujang Sememang dalam Bulan dan Si Tras Benei hanya ingin menguasai wilayah yang telah mereka tinggali masing-masing. Sehabis perbincangan itu mereka kemudian berpisah dan mulai mengerjakan rencana masing-masing.

Si Jago Setahun dibantu oleh dua adiknya dalam meramu di hutan mengumpulkan bahan-bahan untuk membangun istananya di Cawang Lekat. Mereka bertiga lalu bekerja sama menebang pohon dan memotong-motong kayunya di hulu aliran Sungai Sulup. Ketika lewat beberapa hari mereka bekerja membuat ramuan Rumah, Si Jago Setahun kemudian tersentak oleh bencana yang mungkin diakibatkan oleh sahabatnya Si Pahit Lidah yang ingin membangun tebet dan merendam Noak Musei yaitu seluas dataran wilayah Rejang. Seluruh yang terkena luapan aliran Sungai Ketahun dari tebet yang dibangun oleh Si Pahit Lidah tersebut dapat memusnahkan seluruh makhluk yang berada di dalamnya termasuk seluruh rakyat Rejang.

Si Jago Setahun kemudian berkata kepada kedua saudaranya mengenai kekhawatirannya tersebut. Mendengar kekhawatiran Si Jago Setahun, kedua saudaranya Bujang Semamang dalam Bulan dan Tras Benei sepakat untuk mencoba memberitahu Si Pahit Lidah agar mengurungkan niatnya tersebut. Maka mereka bertiga berangkatlah ke Turan Tiging tepatnya Hulu Sungai Ketahun tempat Si Pahit Lidah sedang bekerja. Mereka meninggalkan ramuan istana di Sungai Sulup dalam keadaan kayu yang sudah terpotong-potong.

Sesampainya di sana, mereka melihat Si Pahit Lidah sedang mengangkat sbleki tanah untuk menimbun aliran Sungai Ketahun, mereka melihat bahwa pekerjaannya sudah hampir selesai. Melihat ketiga orang temannya datang, Si Pahit Lidah menghentikan pekerjaannya dan duduk beristirahat, pada saat inilah Si Jago Setahun berkata kepada Si Pahit Lidah.

 “Baiknya kau hentikan pekerjaanmu sekarang juga wahai Si Pahit Lidah” Kata Si Jago Setahun.

 “Ada apa yang bisa menghentikan pekerjaanku membuat tebet  di aliran Sungai Ketahun ini?” jawab Si Pahit Lidah.

Si Bujang Semamang Bulan lalu berbohong, ia berkata “Kami mendengar kabar bahwa anak yang kau tinggalkan di Pagar Alam baru saja meninggal.”

Mendengar kabar tersebut Si Pahit Lidah kemudian terkejut “Benarkan demikian? Jika Benar maka aku harus meninggalkan tempat ini secepatnya.”

 “Ya benar, pekerjaanmu harus kau hentikan pula. Bagaimana pekerjaan kami di Sungai Sulup pun juga sudah berhenti.”

Kemudian Si Pahit Lidah berkata “Tidak apa-apa, karena ramuan pohon yang sudah kalian potong-potong itu nanti paling hanya akan mengeras menjadi batu!” seketika itu potongan-potongan kayu pohon di di Sungai Sulup yang akan menjadi ramuan istana Si Jago Setahun itu pun langsung menjadi batu yang berbentuk mirip potongan-potongan kayu berbentuk balok.  Saat itu ramuan di Sungai Sulup tersebut telah menjadi suatu tempat yang indah dan di keramatkan bernama Batu Betiang. Sedangkan tebetyang tidak selesai dikerjakan oleh Si Pahit Lidah lama-kelamaan membentuk sebuah danau yang dahulu dikenal dengan nama Pemebet Si Pahit Lidah atau sekarang di kenal dengan nama Danau Tes.

Peneliti : Riqqah Dhiya Ramadhanty

Penutur : Djuria  

Persebaran : Bermani Ulu Raya, Kabupaten Rejang Lebong.

Kamus Dwibahasa Bahasa Bengkulu Dialek Serawai – Indonesia

Kamus Bahasa Bengkulu Dialek Serawai

Penanggung Jawab : Kepala Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu
Tim Penyusun : Azmi Ridwan Fauzi, Yanti Riswara, Resy Novalia
Pengolah Data : M. Yusuf, Olga Chaesa Novianti, Ferdiana Angraini
Desain Sampul : Zainal Arifin Nugraha

Penyumbang Data:
Armanuddin Durhan, Saleha, Eldi Susanto, Emron, Sahin, Johlan Sahlin, Mirhan, Zairin Mulyadi, Anwar, Madali Syakban, Rusman Mahidi, Supardi, Gunadi Mulkan, Arsik Bakarmin, Saiful, Lasminuddin, Syafaridi Supli, Reskan Keram, Hj. Desmawarti, Maya Pransiska, Indah Kurniati, Yesi Emarni, Nita Sugiarti, Zalna Fitri, Desti Susila Rani, Rudi Azhari. Rima Ropita, Veka Susanti, Rahma Desti, Fenni Oktafianni, Emani, Leona Rezha, Wanti Renita, Herlansyah, Neto Kusboyo, Ovet Novita Sari, Efriyanti, Ramlan, Meco Chandra, Enda Elka Sari, Ira Hastuti, Ratemin Suhadi, Ario Satria, Naliasti, Desi Budiarti, Pipin Sri Rahayu, Widiya Yupita Sari, Rio Agustian, Asrianto, Fajrul Tantomi, Rezan Okto Wesa, Suswadi Ali K.

Cetakan Pertama: September 2022
Diterbitkan oleh:
Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu
Jalan Zainul Arifin Nomor 2, Singaran Pati, Bengkulu, 38225
Telepon (0736) 344078 Faksimile (0736) 344078
Pos-el kantorbahasabengkulu@kemdikbud.go.id