Arsip Kategori: KKLP Pelindungan dan Pemodernan

Beteri Kembang Kundur

Di sebuah desa hiduplah seorang pemuda yang bernama Bujang Bekurung, dia memiliki dua orang kekasih yang tinggal pada desa itu pula. Mereka adalah Beteri Kembang Kundur dan Panau Jarang. Akan tetapi Bujang Bekurung lebih memilih menikah dengan Beteri Kembang Kundur, sehingga membuat Panau Jarang Kecewa dan sakit hati. Melihat hal itu Panau Jarang berusaha mencari akal untuk membunuh Beteri Kembang Kundur.

Dengan akal liciknya, Panau Jarang mengajak Beteri Kembang Kundur mencari kayu bakar. “Bateri bagaimana kalua kita mencari kayu bakar? Ajak Panau Jarang. “Iya, ayo Panau Jarang,” seru Beteri. Akhirnya mereka berdua berjalan menuju hutan setempat. Sesampainya di hutan Panau Jarang hanya memotong sedikit kayu bakar, kemudian dia pulang meninggalkan Bateri Kembang Kundur yang terus mencari kayu bakar sampai memenuhi keranjangnya.

            Sesampai di rumah, Panau Jarang menemui Bujang Bekurang, “Hai Bujang Bekurang, mengapa istrimu begitu malas. Aku lelah mendapatkan satu keranjang kayu bakar, tetapi istrimu separuhpun belum ia dapatkan,” ujar Panau Jarang. Mendengar ucapan Panau Jarang Bujang Bekurang hanya diam saja, seolah-olah tidak menghiraukannya. Panau Jarang menjadi geram karena Bujang Bekurang tidak menghiraukan ucapannya. Panau Jarang berpikir Bujang Bekurang tidak akan memarahi istrinya. Keesokan harinya karena tidak merasa puas, Panau Jarang kembali mengajak Beteri Kembang Kundur mengambil daun untuk atap. “Beteri bagaimana kalau kita mencari dan belebas (sejenis daun rumbia)?” Ajak panau jarang. “Mari Panau Jarang”, ujar Bateri Kembang Kundur.

            Sesampai di hutan lagi-lagi Panau Jarang mengambil beberapa helai daun belebas, kemudian dia pulang meninggalkan Beteri Kembang Kundur yang terus mecari daun belebas sebanyak mungkin. Sesampai di rumah, Panau Jarang menemui Bujang Bekurung kembali. “Hai Bujang Bekurung, mengapa istrimu begitu jahat. Ia telah membohongi aku, aku terus mencari daun belebas, tetapi dia hanya makan saja”, ujar Panau jarang. “Biarkan saja Panau Jarang, itu adalah kehendaknya,” jawab Bujang Bekurung.

            Panau Jarang pun bertambah kecewa karena Bujang Bekurung tetap mengampuni kesalahan Beteri Kembang Kundur. Beteri Kembang Kundur tidak pernah menaruh rasa curiga kepada Panau Jarang. Hingga pada suatu hari Panau Jarang mengajak Beteri Kembang Kundur kembali mencari daun, dan Beteri Kumbang Kundur tetap menurutinya. Lagi-lagi Panau Jarang meninggalkan Beteri Kembang Kundur. Panau Jarang menemui Bujang Bekurung kembali. “Wahai Bujang Bekurung, apakah kau tidak tahu kalau istrimu telah memotong ayam kesayanganmu” kata Panau Jarang. Ia membawa kelapa, kukuran kelapa, masak nasi dan gulai di hutan dan dia memasak ayam itu untuk dijadikan gulai, tambah Panau Jarang.

            Ketika Beteri Kembang Kundur sampai dari hutan dan menginjakkan kaki ke pondok, tiba-tiba Bujang Bekurung memenggal kepala istrinya hingga meninggal. Melihat kejadian itu Panau Jarang sangat senang dan puas, ia berfikir kalau Beteri Kembang Kundur meninggal maka Bujang Bekurung akan kembali kepadanya dan akan menjadi suaminya.

            Tiga hari meninggalnya Beteri Kembang Kundur, Nenek Bujang Bekurung menumbuk beras untuk memasak kue guna mengadakan selamatan untuk Beteri Kembang Kundur. Tiba-tiba Beteri Kembang Kundur datang dengan wujud seperti anak gadis dan membantu neneknya  menumbuk beras, dan membuat kue. Setelah selesai ia pamit kepada neneknya untuk pulang. Akan tetapi neneknya mengaharapkan supaya gadis itu mau menginap barang sehari. Beteri Kembang Kundur menolak dengan alasan takut ibunya nanti heran dan cemas.

Sepeninggal Beteri Kembang Kundur, Bujang Bekurung terus menemui Panau Jarang. Setelah hari ke tujuh meninggalnya Beteri Kembang Kundur, ia pun datang kembali menemui neneknya. “ Nek apakah nenek sudah mengambil bambu untuk lemang?’ tanya Beteri Kembang Kundur. “Belum anakku siapa yang akan membantu nenek untuk mengambilnya?” sahut neneknya. Lalu dimanakah paman Bujang Bekurung berada Nek?’tanya Beteri Kembang Kundur lagi. Sepeninggal cucu penganten (istrinya) Bujang Bekurung selalu di rumah paman Jarang” Jawab Neneknya. “Kalau begitu bagaimana kalau aku mengajaknya mengambil bambu Nek?” kata Beteri Kembang Kundur. “Ajaklah anakku” Jawab Neneknya.

Lalu Beteri Kembang Kundur pergi menuju rumah Panau Jarang, Ia menemui Bujang Bekurung suaminya di rumah Panau Jarang. “Paman Bujang Bekurung, ayo kita mengambil bambu untuk membuat lemang, karena hari ini hari ketujuh meninggalnya bibi Beteri Kembang Kundur” Ajak Beteri Kembang Kundur. Akhirnya Bujang Bekurung menuruti ajakan Beteri Kembang Kundur. Setelah Bujang Bekurung mengambil keranjang dan pisau kemudian mereka pergi menyeberangi sungai untuk mengambil bambu. Bujang Bekurung bertugas menebang bambu dan Beteri Kembang Kundur memotonginya menjadi bagian-bagian kecil lalu mencucinya. Bujang Bekurung duduk di atas batu di belakang Beteri Kembang Kundur. Dalam hatinya, Bujang Bekurung heran melihat Beteri Kembang Kundur. Ia berpikir mengapa gadis ini mirip sekali dengan istrinya, Beteri Kembang Kundur. Kemudian ia bernyanyi “Sungguh aku merasa sedih aku melihatnya Beteri Kembang Kundur, mengapa seperti istriku Beteri Kembang Kundur, sepuluh jarinya penuh dengan cincin, juga memakai selendang jarang Beteri Kembang Kundur.

Lalu Beteri Kembang Kundur menjawabnya. “Kalau benar Beteri Kembang Kundur telah meninggal, kasihan sekali paman. Meninggal karena dipenggal dengan rotan besar karena paman telah kena fitnah Panau Jarang.  “Sudahlah, mari kita pulang.”kata Bujang Bekurung.

Sesampai di rumah Bujang Bekurung berpikir, kemudian dia pergi ingin melihat kubur Beteri Kembang Kundur. Ketika ia melihat kubur Beteri Kembang Kundur ia terperanjant dan terkejut ketika melihat lubang besar di makam Beteri Kembang Kundur. Kemudian lubang itu ia tutup dengan batu dan batang hingga lubang itu tertutup semua. Sedangkan Beteri Kembang Kundur pulang dari mengambil bambu ia langsung memasak lemang. Setelah selesai hari sudah ssore. Lalu Beteri Kembang Kundur berpamitan untuk pulang kepada neneknya. “ Nek aku harus pulang,” Menginaplah dulu anakku, karena setelah kali ini kita tidak akan repot lagi mengadakan doa bagi cucu pengantin.” Bujuk neneknya. “Maaf Nek, aku tidak bisa, aku harus pulang.”ujar Beteri Kembang Kundur.

Dari awal nenek Bujang Bekurung tidak mengetahui siapa sebenarnya gadis yang selama ini menolongnya memasak, bahkan orang tuaanyapun tidak tahu. Tetapi setelah ia pulang ke makamnya, ia tidak dapat menemukan lobang besar di atas makamnya, tempat ia masuk. Tiba-tiba datang Bujang Bekurung mengejutkannya. “Pilu rasanya hatiku,kalau makan terasa sekam, kalau minum terasa duri, ini gerangan penyebabnya.” Ujar Bujang Bekurung. Beteri Kembang Kundur menunduk.”Maafkan saya Kak, harus bagaimana lagi ingin pulang sudah tidak mungkin, mungkin inilah takdirku. Aku harus ikut Kakak Bujang Bekurung. Apakah menjadi penjaga ayam kesayanganmu, atau menjadi penjaga pintu rumahmu?” iba Beteri Kembang Kundur. “Tidak, kamu akan tetap menjadi istriku, Beteri Kembang Kundur” ujar Bujang Bekurung. “Baiklah Kak.”jawab Beteri Kembang Kundur. Ketika mereka berjalan menuju rumah, Panau Jarang menjadi terkejut dan akhirnya Panau Jarang bunuh diri dari pada menahan rasa sakit hati.

Sumpit Tupai

Ada dua saudara yang ikut orang tuanya tinggal di huma. Adiknya bernama Bujang Kurung dan kakaknya bernama Beteri. Anak huma selalu kekurangan makanan, karenanya mereka mencari buah jambu di kebun. Mereka berhasil menemukan pohon jambu yang sedang berbuah. Besar luar biasa jambunya, ada sebesar kulak . diletakkankannya jambu tersebut di atas lantai. Jambu ini kemudian dicuri oleh seekor tupai. 

Melihat jambunya sudah diambil tupai berkatalah Beteri pada sang tupai, “Wahai tupai, adikku minta buah jambu itu tupai.”

“Tidak mau,” jawab sang tupai.

Maka ia menemui sang sumpit (selongsong bambu yang digunakan sebagai pelontar panah dengan cara dihembus).

“Sumpit-sumpit tolong sumpitkan si tupai, tupai tidak mau mengembalikan jambu adikku,” kata Beteri pada sumpit.

“Tidak mau,” kata sumpit.

Maka ia mendatangi puntung (kayu bakar).

“Puntung-puntung tolong patahkan sumpit, sumpit tidak mau sumpitkan tupai, tupai tidak mau mengembalikan jambu adikku.”

“Tidak mau,” kata puntung.

Mulailah si Beteri mencari lagi. Ia kemudian bertemu dengan api.

“Api-api tolong bakarkan si puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang Beteri.

“Tidak mau,” kata api.

Ia lalu bertemu dengan air.

“Air-air tolong padamakan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” ulang sang Beteri.

“Tidak mau,” kata air. 

Merasa tidak berkawan, menetes lah air mata sang Beteri. Namun, Ia terus berjalan dan bertemu dengan Tebat (bendungan). 

“Tebat-tebat tolong bendungkan air, air tak mau padamkan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang beteri.

Tebat pun tidak menyanggupi permintaan sang Beteri. Ia kembali berjalan, lalu bertemu dengan kerbau. 

“Kerbau-kerbau minta lumbunkan tebat, tebat tak mau membendung air, air tak mau padamkan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang beteri.

Jawaban kerbau pun sama. Ia pun bertemu dengan tandan. 

“Tandan-tandan minta tolong lecutkan kerbau, kerbau tidak mau lumbunkan tebat, tebat tak mau membendung air, air tak mau padamkan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang beteri.

Jawaban tandan pun sama,” tidak mau.”

Berikutnya Beteri bertemu dengan tikus.

“Tikus-tikus tolong eretkan tandan, tandan tidak mau melecut kerbau, kerbau tidak mau lumbunkan tebat, tebat tak mau membendung air, air tak mau padamkan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang beteri.

Si tikus pun enggan. Beteri kembali berjalan. Ia akhirnya bertemu dengan kucing.

“kucing-kucing tolong makan si tikus, tikus tidak mau menggeret tandan, tandan tidak mau melecut kerbau, kerbau tidak mau lumbunkan tebat, tebat tak mau membendung air, air tak mau padamkan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang beteri. “Aku bersedia Beteri. Dimana tikus berada?” jawab si Kucing. Beteri riang bukan kepalang. Ia lalu mengajak kucing menemui tikus. Kucing lalu berkata,”Hai tikus aku makan kamu kalau kamu tidak mengerat tandan!” kata sang kucing. “Ampun kucing, aku akan mengerat tandan itu.” Saat tikus menemui tandan, tandan pun meminta ampun dan mengabulkan permintaannya. Begitu seterusnya hingga semua mengabulkan permohonan Beteri. Akhirnya sang tupai pun memohon ampun karena akan disumpit, ia lalu mengembalikan jambu milik adik Beteri. Namun saat dikembalikan jambu tersebut tinggal sedikit.   

Paku Remelay

Pada zaman dimana tumbuhan pakis belum dikenal sebagai makanan, hiduplah seorang raja. Raja ini telah memperistri tujuh orang namun belum juga dikaruniai keturunan. Suatu saat, istri raja yang ketujuh ini sangat mengidamkan memakan sayur pakis (paku, dalam dialek Kedurang disebut Pakur Melay). Sang raja sangat ingin memenuhi keinginan istrinya tersebut, namun Raja bingung bagaimana mencari sayur pakis yang dapat dimakan. pagi-pagi sekali di bawanya lah istrinya yang ketujuh ini pergi ke sepetak kebun kosong. Di sana sang raja kemudian berpantau:

Ringit-ringit lah paku remelay, bapak ndak makan gulay paku remelay

(tumbuh-tumbuh lah pucuk  paku, bapak ingin makan gulai pucuk paku)

 Ajaib! Dalam sebidang kebun mati itu sekarang penuh ditumbuhi oleh pohon pakis. Diambilah pakis itu oleh mereka, lalu kemudian digulai. Istrinya memakan gulai pakis itu dengan lahap. Keajaiban kembali datang. Setelah memakan gulai pakis itu, istrinya yang ketujuh tersebut hamil.  Kehamilannya disambut suka cita oleh sang raja beserta keenam istri lainnya. Setelah sampai masanya, istri ketujuh itu melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi ini kemudian diberi nama Pakur Melay karena dilahirkan setelah memakan sayur pakis. Pakur Melay sangat disayangi oleh raja dan kesemua istrinya. Dia dirawat dengan baik dan penuh kasih sayang, hingga ia tumbuh menjadi seorang gadis. 

Saat dia mencapai usia remajanya, ayahnya jatuh sakit. Seperti istrinya yang ketujuh dahulu, sang raja pun mengidamkan gulai pakis. Anak yang juga sangat mencintai ayahnya ini, berencana mencari pakis yang sangat diidamkan bapaknya. 

Ia bertanya pada ibunya,”Ibu, dimanakah bisa kuperoleh pakis untuk dijadikan gulai?”

Ibunya teringat pada sepetak kebun dimana ia dan Raja dulu memetik pucuk pakis. Ditunjukkannyalah jalan ke kebun tersebut kepada Pakur Melay. Saat tiba di sana Pakur Melay hanya berdiri sendirian di tengah kebun kosong. Semua tanaman pakis di kebun tersebut telah mati.  Dalam kesedihannya dia kembali berpantau:

Ringit-ringitlah paku remelay, bapak ndak makan gulay paku remelay.

Berpantau saja kerjanya seharian itu. Tanpa diduga-duga tumbuhlah rumpun pakis di kebun kosong tersebut. dipetiknya pucuk pakis itu denga hati riang. Diulang-ulangnya terus pantauannya tersebut. Setiap ia mengulang tumbuh tanaman pakis di sebagian kebun tersebut. Namun tumbuh juga pakis dari kakinya. Lalu tumbuh pula di tangannya. Semakin sering ia mengulangi hal tersebut, semakin banyak pakis tumbuh di kebun dan tubuhnya. 

Ringit-ringitlah paku remelay, bapak ndak makan gulay paku remelay. Secara ajaib sepetak kebun tersebut berubah menjadi ladang pakis yang rimbun.  Pakur Melay yang berdiri di tengah kebun pun ikut berubah menjadi tanaman pakis. Karena tidak pulang-pulang, ketujuh istri sang raja mencarinya. Sang istri ketujuh menemukan kebun mati yang kini telah berbubah menjadi sepetak kebun pakis yang rimbun segera menyadari bahwa Pakur Melay telah berubah menjadi tanaman pakis. Ia menangis histeris di kebun itu. Berita itu segera sampai di telinga sang raja dan enam istri lainnya. Mereka semua bertangisan di kebun itu. Ayahnya berkata, “kalau tahu seperti ini, Nak, lebih baik aku tidak makan gulai pakis.” Karena sangat menyayangi pakur Melay, mereka semua bertangisan hingga menemui ajalnya di sepetak kebun tersebut.

Genjer dan Tulang Keli

Ada dua saudara yang ikut tinggal dengan orang tua mereka di huma (sawah darat). Sang kakak yang bernama Genjer bertugas mengasuh adiknya saat orang tuanya menyiangi rumput di huma. Karena tinggal di tengah huma, tidak lah banyak yang bisa mereka makan. Saat lapar Genjer dan adiknya mencari buah puar  yang banyak tumbuh di tepi huma mereka. Terkadang mereka juga mendapat buah pekisai.

Saat tengah hari, bapak dan ibunya kembali ke dangau. Melihat sisa-sisa buah puar (sisa buah ini menyerupai nasi) di sekitar pondok sang ibu marah-marah. 

“Aduh, kenapa kalian hambur-hamburkan nasi ini?” kata ibunya.

“Bukan bapak-ibu. Ini bukan nasi. Ini buah puar,” jawab Genjer.

“Buah puar… buah puar… jangan bohong  kamu. Jelas-jelas ini nasi.”

“ Bukan ibu. Ini bukan nasi. Ini buah puar.”

Ibunya lalu meneliti sisa-sisa buah puar tersebut. Ia akhirnya yakin  kalau itu bukan nasi, namun hatinya masih menyimpan dongkol pada Si Genjer. Mereka lalu kembali ke dangau untuk makan bersama. Setelah makan, ayahnya meraut bilah-bilah bambu untuk dibuat bubu (perangkap ikan). 

“Apa yang diraut itu Bapak?” tanya Genjer.

“Bambu untuk membuat bubu,” jawab bapaknya.

Lekang(jarang betul) rautan Bapak ini?”

“Sudahlah jangan banyak kata. Kamu tunggu saja, jika nanti ikan tertangkap jangan kamu makan.”

Genjer tertawa saja. 

Esoknya ayah dan ibunya kembali sibuk menyiangi huma. Seperti biasa, pada tengah hari ibu dan bapaknya kembali lagi ke dangau. Mereka kembali menemukan buah sisa-sisa buah puar yang  berserakan di sekitar pondok. Ibunya kembali meradang 

“Kenapa kamu selalu menghambur-hamburkan nasi? Bagaimana Ibu dan Bapak makan nanti? Dasar pembohong. Kerjamu hanya memainkan makanan saja, padahal kamu itu sudah besar, “ Omel orang tuanya. 

Direnggut adiknya dari gendongan Genjer, lalu dibawa oleh orang tuanya ke dalam pondok. Mereka bertiga lalu makan bersama. Genjer ditinggal sendiri di luar pondok, ia tidak diperbolehkan makan. Terdiam saja ia di luar sambil menangis sesengukan.

Begitulah hari demi hari berlalu. Ayah dan ibu Genjer hampir selesai menyiangi huma. Telah selesai pula bubu  yang dikerjakan bapaknya di waktu luangnya. Di pasanglah bubu  tersebut di tepi sungai dekat huma. Suatu hari, bubu  itu berhasil menjerat seekor ikan keli besar. namun seekor bengkarung besar telah mengintai keli yang memberontak dalam bubu tersebut.  Kebetulan Genjer lewat. Demi melihat bengkarung yang mengincar ikan mereka, diambilnya kayu untuk memukul bengkarung tersebut. Pukulannya mengenai bengkarung itu dan merontokkan sebagian sisiknya. Bengkarung itu lari menyelamatkan diri. 

“Aduh, luar biasa besarnya keli yang terjerat ini,” batin Genjer saat melihat ikan tersebut. 

Ia lalu mengangkat bubu tersebut. Sejurus kemudian, bapaknya datang. Melihat sisik berserakan di sekitar bubu yang diangkat genjer, ia berteriak marah. 

“Genjer, kenapa kamu makan ikan-ikan kecilnya?” bentak bapaknya.

“Bukan Bapak. Ini bukan sisik ikan. Ini sisik bengkarung.”

“Sudah jangan bohong terus kamu. Kamu tidak boleh makan ikan keli ini.”

“Jangan begitu bapak. Aku juga ingin makan ikan keli ini.”

“Tidak boleh. Waktu itu juga kamu menjelek-jelekkan bubu buatan bapak. Kamu tidak akan Bapak beri.”

Genjer hanya terdiam saja. Hatinya sedih bukan kepalang. 

Ayahnya membawa ikan keli besar itu ke dangau dengan bahagia. Dimintanya istrinya memasak ikan keli tersebut. setelah nasi dan gulai keli masak, ayahnya mengusir Genjer keluar rumah. Pintu mereka kunci lalu mereka makan bersama.  Si sulung sendirian menahan lapar di luar rumah. Ia turun ke bawah rumah dan duduk di bawah jendela dangau. Mengetahui Genjer di bawah jendela, tingkah ayah dan ibunya makin menjadi. Mereka membuang tulang keli yang sudah mereka makan melalui jendela dangau. 

“Alangkah enaknya keluargaku makan keli. Sementara aku di sini sendiri tidak mereka bagi.” 

Diambilnya tulang keli itu, lalu dibantingkannya ke tanah. Tulang kepala ikan keli itu lalu menancap di tanah. Ia duduk di atasnya sambil bepantau (menyanyikan bait tertentu dari bagian cerita).

Tinggi-tinggilah tulang keli, nduk ngan bapak jahat makan (ibu dan bapak jahat dalam membagi makanan). Buah puar kiciakkan nasi, sisik bengkarung kiciakkan sisik ikan.”

 Nyus. Tulang keli itu tumbuh membesar dalam sekejap dengan Genjer berada di atasnya. 

Mekak (ribut)” kata ayahnya yang sedang makan. “Banyak cerita, setinggi apa pula tulang keli itu?” ejek Bapaknya.

Ayahnya mengatakan itu tanpa melihat tulang keli yang ada di tengah halaman telah tumbuh setinggi jendela dangau. 

Si Genjer kembali bepantau.

Tinggi-tinggilah tulang keli, nduk ngan bapak jahat makan. Buah puar kicikkan nasi, sisik bengkarung kicikkan sisik ikan

Nyus. Tulang keli itu telah tumbuh melebihi bubungan.

“Kenapa suara Genjer seperti telah di atas dangau?” kata bapaknya.

“Ah tidak apa-apa,” kata ibunya. “bagaimana pula caranya tulang keli dapat tumbuh tinggi.”

Mereka terus saja makan. Kembali terdengar si Genjer berpantau

Tinggi-tinggilah tulang keli, nduk ngan bapak jahat makan. Buah puar kicikkan nasi, sisik bengkarung kicikkan sisik ikan

“Sepertinya sudah tinggi benar si Genjer itu, antara terdengar dan tidak suaranya,” kata ibunya. “Ayo coba kita lihat sebentar.” Mereka lalu meninggalkan makanan mereka. Saat melongok keluar mereka terkejut karena tulang keli itu sudah sangat tinggi. Begitu tinggi hingga mereka tidak dapat melihat ujungnya. 

Ibunya berteriak, “Turunlah Nak. Turunlah nak. Kami akan berubah. Kami minta maaf.”

Namun hal tersebut tidak mungkin, semua sudah terlambat. 

“Mau pergi kemana kamu?”

“Aku akan kembali ke pintu langit,” jawab Genjer. Genjer terus bepantau hingga berhari-hari lamanya ia tidak akan berhenti hingga tulang keli mencapai pintu langit. Tulang keli terus bertumbuh besar. Saking besarnya tulang keli tersebut, ia menjadi pembayang matahari.  Setelah sampai tulang kepala keli dan genjer di pintu langit, ia dihadang Garuda berkepala tujuh. 

“Kenapa kamu ini Genjer?” tanya burung garuda berkepala tujuh.

“Anu nenek burung garuda berkepala tujuh, tolong bantu aku,” jawab Genjer.” Aku ingin kembali ke pintu langit.”

“Kenapa?” tanya burung garuda tersebut.

“Ibu dan Bapak ku jahat padaku.”

“Ah masa hingga segitunya?” kata Garuda.

“Sewaktu aku masih di bawah, ibu menuduh aku menghamburkan nasi padahal itu buah puar. Katanya aku memanggang ikan, padahal itu bengkarung. Aku tidak diberi ikannya.”

“Tunggulah sebentar,” kata sang burung garuda berkepala tujuh. “Biar aku turun ke bumi dahulu.”

Burung Garuda tersebut terbang turun ke bumi. Dia lalu menjelma menjadi manusia. Dia lalu pergi menemui ibu dan bapak Genjer. Ayahnya telah buta karena terlalu banyak menangis hingga kering air matanya. Ibunya terbaring lemah denga tubuh yang tinggal setipis tikar. Bertanyalah burung Garuda mengenai perkara Genjer tersebut.

“ Kenapa pula kalian berlaku jahat seperti itu padanya. Jahat dalam membagi makan.” kata jelmaan burung Garuda tersebut.

“Kami tidak tahu mau berkata apa lagi. Itulah kekeliruan dan ketololan kami. Mungkinkah dia kembali? Mohonkan pada dia untuk kembali, Tuan. ” pinta bapaknya.

“Tidak mungkin lagi,” kata jelmaan burung garuda kepala tujuh tersebut.”Semua sudah terlalu terlambat. Kejahatan kalian sudah luar biasa dan tidak sesuai lagi dengan cara-cara yang berlaku (manusiawi). Apa boleh buat, nasib si Genjer memang ingin kebaikan untuknya. Untuk kalian aku berpesan hiduplah dengan baik. Tidak usah lagi memikirkan Genjer, rawatlah adiknya. Jangan ulangi kesalahan kalian.”

Burung Garuda itu lalu kembali ke bentuknya semula.  “Aku akan kembali menemui Genjer. Aku akan melubangi langit, supaya Genjer dapat masuk,” katanya.  Lalu dia terbang untuk menemui Genjer.

“Bagaimana jadinya Genjer? Menurutku sebaiknya kau turun saja, karena orang tua mu sudah buta semua. Badan ibumu menyusut hingga seperti tikar. Kembalilah saja kamu kepada Bapak dan Ibumu.  Jika kamu sudah menemui mereka, mungkin mereka akan sembuh kembali. Kamulah  obat satu-satunya.”

“Sudah tidak bisa lagi, Nenek,” jawabnya. “Tulang keli ini tidak bisa lagi merunduk. Bagaimana caranya aku turun?”

“Baiklah jika memang seperti itu maumu, akan kulubangi langit ini.” Lalu dilubangilah langit oleh burung garuda berkepala tujuh itu. Masuklah Genjer ke atas langit. Berbahagialah ia di sana. Demikian ceritanya. 

Peneliti : Sarwo Ferdi Wibowo, Olga Chaesa Novianti,

Serawai

Serawai

Menurut Setyanto (2015:54), wilayah etnis Serawai meliputi marga Semidang Alas, Pasar Manna, Ilir Talo, Ulu Talo, Ulu Manna, dan Ilir Manna. Bentuk kekerabatan ini disebut jughai tuo atau sepuyang. Beberapa jughai bisa bergabung karena punya asal usul dari puyang (nenek) yang sama, yaitu gabungan ini biasa disebut jungku atau kepuyangan. Setiap jughai dipimpin oleh seorang jughai tuo yang dipilih oleh beberapa jungku, pemimpinnya biasa disebut jugangau dusun, kekuasaannya berhak mengatur mengenai adat istiadat dan agama. Dusun-dusun etnis Serawai dikelompokkan ke dalam beberapa marga. Kepala marga disebut pesirah dan diberi gelar khalifah. Untuk mengatur dusun-dusun yang ada dalam kekuasaannya, maka pesirah dibantu oleh beberapa depati. Satu di antaranya diangkat sebagai pemangku atau depati utama.