Arsip Kategori: pojok

Ki-lo-gram atau Ki-log-ram?

Pertanyaan di atas berkaitan dengan kaidah ejaan tentang pemenggalan kata yang dinyatakan dengan tanda hubung di antara suku kata yang dipenggal.
Jika ada dua konsonan yang berurutan di tengah kata, pemenggalannya dilakukan setelah konsonan pertama. Misalnya, April dipenggal menjadi Ap-ril, janji menjadi jan-ji, dan runding menjadi run-ding. Jika di tengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih, pemenggalannya juga dilakukan setelah konsonan yang pertama. Contohnya, instansi dipenggal menjadi in-stan-si dan instruksi menjadi in-struk-si.

Pemenggalan kata yang mengandung bentuk trans- dilakukan dengan memperhatikan ketentuan berikut.
  1. Jika trans- diikuti bentuk bebas, pemenggalannya dilakukan dengan memisahkan trans- sebagai bentuk utuh dan bagian lainnya dipenggal sebagai kata dasar, misalnya kata transmigrasi dipenggal menjadi trans-mig-ra-si, transfusi menjadi trans-fu-si, dan transaksi menjadi trans-ak-si.
  2. Jika trans- merupakan bagian dari kata dasar, pemenggalannya dilakukan dengan mengikuti pola pemenggalan kata dasar. Misalnya, transenden dipenggal menjadi tran-sen-den, transisi menjadi tran-si-si, dan transit menjadi tran-sit.
Pemenggalan kata yang mengandung bentuk eks- dilakukan sebagai berikut.
  • Jika eks- terdapat pada kata yang pemakaiannya dapat disejajarkan dengan in- atau im-, pemenggalannya dilakukan di antara eks dan unsur berikutnya. Contoh: ekstra dipenggal menjadi eks-tra, ekspor dipenggal menjadi eks-por, eksklusif dipenggal menjadi eks-klu-sif.
  • Bentuk eks- yang tidak dapat disejajarkan dengan in- atau im-, pemenggalannya dilakukan di antara ek- dan bagian kata yang mengikutinya. Misalnya, kata ekses dipenggal menjadi ek-ses, ekstrem menjadi ek-strem, dan eksistensi menjadi ek-sis-ten-si.
Kata-kata lain yang terdiri atas dua unsur atau lebih yang salah satu unsurnya dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya juga melalui dua tahap. Mula-mula unsur itu dipisahkan, kemudian dipenggal dengan mengikuti pola pemenggalan kata dasar.
Contoh:
             kilogram dipenggal menjadi kilo dan gram, kemudian ki-lo-gram
             biografi dipenggal menjadi bio dan grafi, kemudian bi-o-gra-fi
             biologi dipenggal menjadi bio dan logi, kemudian bi-o-lo-gi

Makna Kata Jihad

Kata jihad berasal dari bahasa Arab, yaitu aljihad, yang berarti ‘perjuangan’. Dalam bahasa Indonesia, kata jihad digunakan dengan pengertian sebagai berikut.

Jihad ialah usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kebaikan manusia secara keseluruhan. Contoh kalimat yang menggunakan kata jihad dengan makna seperti itu adalah sebagai berikut.

  1. Kita berjihad melawan kemiskinan.
  2. Demi ketenteraman batin Anda, berjihadlah melawan hawa nafsu.

Makna jihad yang lain ialah perjuangan membela agama dengan cara mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga. Contoh kalimat yang mengandung kata jihad dengan pengertian itu adalah sebagai berikut.

      3. Orang yang berjihad di jalan Allah adalah orang yang berjiwa mulia

Sumber: Buku Praktis bahasa Indonesia 1, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2011

Makna Debirokratisasi dan Deregulasi

Kata birokrasi berasal dari kata bureaucracy yang bermakna ‘administrasi yang dicirikan oleh kepatuhan pada aturan, prosedur, dan jenjang kewenangan sehingga sering mengakibatkan kelambanan kerja, kerumitan perolehan hasil, dan penundaan gerak; sedangkan kata birokratisasi yang berasal dari bureaucratization bermakna ‘hasil tindakan yang berhubungan dengan, atau yang bercorak birokrasi’. Kata regulasi yang berasal dari regulation bermakna ‘tindakan pengurusan dengan berbagai aturan (yang berkekuatan hukum).
Unsur de- yang melekat pada kata serapan dari bahasa asing misalnya bahasa Inggris, bermakna (1)

‘melakukan hal yang sebaliknya’, (2) ‘mengalihkan sesuatu dari’, (3) ‘mengurangi’, (4) ‘suatu ubahan dari’, dan (5) ‘keluar dari’. Jadi, debirokratisasi bermakna ‘tindakan atau proses mengurangi tata kerja yang serba lamban dan rumit agar tercapai hasil dengan lebih cepat’, sedangkan deregulasi bermakna ‘tindakan atau proses menghilangkan atau mengurangi segala aturan’.
Perlu diingat bahwa pada kedua bentuk itu sudah terkandung makna tindakan. Oleh sebab itu, jika kita akan membentuk kata kerja, tidak perlu kita menambahkan imbuhan -kan. Jadi, cukup mendebirokratisasi atau menderegulasi, dan bukan mendebirokratisasikan atau menderegulasikan.

Dari Manakah Asal dan Makna Kata Mantan?

Dalam tulisan Saudara Ahmad Bastari Suan, Universitas Sriwijaya, pada majalah Pembinaan Bahasa Indonesia tahun 1984, diusulkan kata mantan sebagai pengganti kata bekas (‘eks’) yang dianggap kurang pantas dan bernilai rasa rendah. Kata itu terdapat dalam bahasa Basemah, Komering, dan Rejang yang bermakna ‘tidak berfungsi lagi’. Dalam bahasa Basemah ada bentuk penggawe mantan ‘eks pegawai; pegawai yang tidak berfungsi lagi’, ketip mantan ‘eks khatib; khatib yang tidak berfungsi lagi’, dan penghulu mantan ‘eks penghulu; penghulu yang tidak berfungsi lagi’. Di dalam bahasa Jawa, ada kata manten yang arti dan bentuknya bertalian juga dengan mari dan mantun, yang diambil dari bahasa Jawa Kuno dengan makna ‘berhenti’. Misalnya,. dalam bahasa Jawa Kuna, ada mariyapanas (1) ‘berhenti ia dari kemarahan’, (2) ‘berhentilah dari kemarahan’ dan manten angucap ‘berhenti berkata’.

Kata bekas dalam bahasa Indonesia pada bangun frasa dapat menjadi intinya (yang diterangkan), seperti pada frasa bekas menteri, dan dapat juga menjadi atribut (yang menerangkan), seperti pada mobil bekas. Karena kata mantan itu menggantikan kata bekas yang berfungsi sebagai inti frasa, maka letaknya, sesuai dengan hukum DM, di awal frasa; mantan menteri, mantan presiden, mantan guru SD, dan sebagainya.
Perlu ditambahkan bahwa penggantian itu dimaksudkan untuk menghilangkan konotasi yang buruk dan untuk menghormati orang yang diacu. Oleh sebab itu, pemakaiannya pun berkenaan dengan orang yang dihormati yang pernah memangku jabatan dengan baik atau yang pernah mempunyai profesi yang diluhurkan. Kata bekas tetap dipakai, misalnya, untuk menyebut bekas penjahat ulung, bekas diktator, bekas kuda balap, bekas mobil presiden, pakaian bekas, barang bekas.

Beda Metropolitan dengan Megapolitan

Bentuk metropolitan merupakan bentuk adjektif dari metropolis. Kata metropolis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata meter yang bermakna ‘ibu’ dan polis bermakna (1) ‘ibu kota’ atau ‘kota terpenting dalam negara atau wilayah’ dan (2) ‘kota yang menjadi pusat kegiatan perdagangan, industri, dan pemerintahan’. Contoh, polisi metropolitan bermakna ‘polisi kota besar’.

Adapun kata megapolis bermakna (1) ‘kota yang sangat besar’, (2) ‘daerah yang amat padat penduduknya dan yang berpusatkan metropolis’, atau (3) ‘gabungan beberapa metropolis’.