Ada dua saudara yang ikut tinggal dengan orang tua mereka di huma (sawah darat). Sang kakak yang bernama Genjer bertugas mengasuh adiknya saat orang tuanya menyiangi rumput di huma. Karena tinggal di tengah huma, tidak lah banyak yang bisa mereka makan. Saat lapar Genjer dan adiknya mencari buah puar  yang banyak tumbuh di tepi huma mereka. Terkadang mereka juga mendapat buah pekisai.

Saat tengah hari, bapak dan ibunya kembali ke dangau. Melihat sisa-sisa buah puar (sisa buah ini menyerupai nasi) di sekitar pondok sang ibu marah-marah. 

“Aduh, kenapa kalian hambur-hamburkan nasi ini?” kata ibunya.

“Bukan bapak-ibu. Ini bukan nasi. Ini buah puar,” jawab Genjer.

“Buah puar… buah puar… jangan bohong  kamu. Jelas-jelas ini nasi.”

“ Bukan ibu. Ini bukan nasi. Ini buah puar.”

Ibunya lalu meneliti sisa-sisa buah puar tersebut. Ia akhirnya yakin  kalau itu bukan nasi, namun hatinya masih menyimpan dongkol pada Si Genjer. Mereka lalu kembali ke dangau untuk makan bersama. Setelah makan, ayahnya meraut bilah-bilah bambu untuk dibuat bubu (perangkap ikan). 

“Apa yang diraut itu Bapak?” tanya Genjer.

“Bambu untuk membuat bubu,” jawab bapaknya.

Lekang(jarang betul) rautan Bapak ini?”

“Sudahlah jangan banyak kata. Kamu tunggu saja, jika nanti ikan tertangkap jangan kamu makan.”

Genjer tertawa saja. 

Esoknya ayah dan ibunya kembali sibuk menyiangi huma. Seperti biasa, pada tengah hari ibu dan bapaknya kembali lagi ke dangau. Mereka kembali menemukan buah sisa-sisa buah puar yang  berserakan di sekitar pondok. Ibunya kembali meradang 

“Kenapa kamu selalu menghambur-hamburkan nasi? Bagaimana Ibu dan Bapak makan nanti? Dasar pembohong. Kerjamu hanya memainkan makanan saja, padahal kamu itu sudah besar, “ Omel orang tuanya. 

Direnggut adiknya dari gendongan Genjer, lalu dibawa oleh orang tuanya ke dalam pondok. Mereka bertiga lalu makan bersama. Genjer ditinggal sendiri di luar pondok, ia tidak diperbolehkan makan. Terdiam saja ia di luar sambil menangis sesengukan.

Begitulah hari demi hari berlalu. Ayah dan ibu Genjer hampir selesai menyiangi huma. Telah selesai pula bubu  yang dikerjakan bapaknya di waktu luangnya. Di pasanglah bubu  tersebut di tepi sungai dekat huma. Suatu hari, bubu  itu berhasil menjerat seekor ikan keli besar. namun seekor bengkarung besar telah mengintai keli yang memberontak dalam bubu tersebut.  Kebetulan Genjer lewat. Demi melihat bengkarung yang mengincar ikan mereka, diambilnya kayu untuk memukul bengkarung tersebut. Pukulannya mengenai bengkarung itu dan merontokkan sebagian sisiknya. Bengkarung itu lari menyelamatkan diri. 

“Aduh, luar biasa besarnya keli yang terjerat ini,” batin Genjer saat melihat ikan tersebut. 

Ia lalu mengangkat bubu tersebut. Sejurus kemudian, bapaknya datang. Melihat sisik berserakan di sekitar bubu yang diangkat genjer, ia berteriak marah. 

“Genjer, kenapa kamu makan ikan-ikan kecilnya?” bentak bapaknya.

“Bukan Bapak. Ini bukan sisik ikan. Ini sisik bengkarung.”

“Sudah jangan bohong terus kamu. Kamu tidak boleh makan ikan keli ini.”

“Jangan begitu bapak. Aku juga ingin makan ikan keli ini.”

“Tidak boleh. Waktu itu juga kamu menjelek-jelekkan bubu buatan bapak. Kamu tidak akan Bapak beri.”

Genjer hanya terdiam saja. Hatinya sedih bukan kepalang. 

Ayahnya membawa ikan keli besar itu ke dangau dengan bahagia. Dimintanya istrinya memasak ikan keli tersebut. setelah nasi dan gulai keli masak, ayahnya mengusir Genjer keluar rumah. Pintu mereka kunci lalu mereka makan bersama.  Si sulung sendirian menahan lapar di luar rumah. Ia turun ke bawah rumah dan duduk di bawah jendela dangau. Mengetahui Genjer di bawah jendela, tingkah ayah dan ibunya makin menjadi. Mereka membuang tulang keli yang sudah mereka makan melalui jendela dangau. 

“Alangkah enaknya keluargaku makan keli. Sementara aku di sini sendiri tidak mereka bagi.” 

Diambilnya tulang keli itu, lalu dibantingkannya ke tanah. Tulang kepala ikan keli itu lalu menancap di tanah. Ia duduk di atasnya sambil bepantau (menyanyikan bait tertentu dari bagian cerita).

Tinggi-tinggilah tulang keli, nduk ngan bapak jahat makan (ibu dan bapak jahat dalam membagi makanan). Buah puar kiciakkan nasi, sisik bengkarung kiciakkan sisik ikan.”

 Nyus. Tulang keli itu tumbuh membesar dalam sekejap dengan Genjer berada di atasnya. 

Mekak (ribut)” kata ayahnya yang sedang makan. “Banyak cerita, setinggi apa pula tulang keli itu?” ejek Bapaknya.

Ayahnya mengatakan itu tanpa melihat tulang keli yang ada di tengah halaman telah tumbuh setinggi jendela dangau. 

Si Genjer kembali bepantau.

Tinggi-tinggilah tulang keli, nduk ngan bapak jahat makan. Buah puar kicikkan nasi, sisik bengkarung kicikkan sisik ikan

Nyus. Tulang keli itu telah tumbuh melebihi bubungan.

“Kenapa suara Genjer seperti telah di atas dangau?” kata bapaknya.

“Ah tidak apa-apa,” kata ibunya. “bagaimana pula caranya tulang keli dapat tumbuh tinggi.”

Mereka terus saja makan. Kembali terdengar si Genjer berpantau

Tinggi-tinggilah tulang keli, nduk ngan bapak jahat makan. Buah puar kicikkan nasi, sisik bengkarung kicikkan sisik ikan

“Sepertinya sudah tinggi benar si Genjer itu, antara terdengar dan tidak suaranya,” kata ibunya. “Ayo coba kita lihat sebentar.” Mereka lalu meninggalkan makanan mereka. Saat melongok keluar mereka terkejut karena tulang keli itu sudah sangat tinggi. Begitu tinggi hingga mereka tidak dapat melihat ujungnya. 

Ibunya berteriak, “Turunlah Nak. Turunlah nak. Kami akan berubah. Kami minta maaf.”

Namun hal tersebut tidak mungkin, semua sudah terlambat. 

“Mau pergi kemana kamu?”

“Aku akan kembali ke pintu langit,” jawab Genjer. Genjer terus bepantau hingga berhari-hari lamanya ia tidak akan berhenti hingga tulang keli mencapai pintu langit. Tulang keli terus bertumbuh besar. Saking besarnya tulang keli tersebut, ia menjadi pembayang matahari.  Setelah sampai tulang kepala keli dan genjer di pintu langit, ia dihadang Garuda berkepala tujuh. 

“Kenapa kamu ini Genjer?” tanya burung garuda berkepala tujuh.

“Anu nenek burung garuda berkepala tujuh, tolong bantu aku,” jawab Genjer.” Aku ingin kembali ke pintu langit.”

“Kenapa?” tanya burung garuda tersebut.

“Ibu dan Bapak ku jahat padaku.”

“Ah masa hingga segitunya?” kata Garuda.

“Sewaktu aku masih di bawah, ibu menuduh aku menghamburkan nasi padahal itu buah puar. Katanya aku memanggang ikan, padahal itu bengkarung. Aku tidak diberi ikannya.”

“Tunggulah sebentar,” kata sang burung garuda berkepala tujuh. “Biar aku turun ke bumi dahulu.”

Burung Garuda tersebut terbang turun ke bumi. Dia lalu menjelma menjadi manusia. Dia lalu pergi menemui ibu dan bapak Genjer. Ayahnya telah buta karena terlalu banyak menangis hingga kering air matanya. Ibunya terbaring lemah denga tubuh yang tinggal setipis tikar. Bertanyalah burung Garuda mengenai perkara Genjer tersebut.

“ Kenapa pula kalian berlaku jahat seperti itu padanya. Jahat dalam membagi makan.” kata jelmaan burung Garuda tersebut.

“Kami tidak tahu mau berkata apa lagi. Itulah kekeliruan dan ketololan kami. Mungkinkah dia kembali? Mohonkan pada dia untuk kembali, Tuan. ” pinta bapaknya.

“Tidak mungkin lagi,” kata jelmaan burung garuda kepala tujuh tersebut.”Semua sudah terlalu terlambat. Kejahatan kalian sudah luar biasa dan tidak sesuai lagi dengan cara-cara yang berlaku (manusiawi). Apa boleh buat, nasib si Genjer memang ingin kebaikan untuknya. Untuk kalian aku berpesan hiduplah dengan baik. Tidak usah lagi memikirkan Genjer, rawatlah adiknya. Jangan ulangi kesalahan kalian.”

Burung Garuda itu lalu kembali ke bentuknya semula.  “Aku akan kembali menemui Genjer. Aku akan melubangi langit, supaya Genjer dapat masuk,” katanya.  Lalu dia terbang untuk menemui Genjer.

“Bagaimana jadinya Genjer? Menurutku sebaiknya kau turun saja, karena orang tua mu sudah buta semua. Badan ibumu menyusut hingga seperti tikar. Kembalilah saja kamu kepada Bapak dan Ibumu.  Jika kamu sudah menemui mereka, mungkin mereka akan sembuh kembali. Kamulah  obat satu-satunya.”

“Sudah tidak bisa lagi, Nenek,” jawabnya. “Tulang keli ini tidak bisa lagi merunduk. Bagaimana caranya aku turun?”

“Baiklah jika memang seperti itu maumu, akan kulubangi langit ini.” Lalu dilubangilah langit oleh burung garuda berkepala tujuh itu. Masuklah Genjer ke atas langit. Berbahagialah ia di sana. Demikian ceritanya. 

Peneliti : Sarwo Ferdi Wibowo, Olga Chaesa Novianti,

Tags:

Comments are closed

Pojok Bahasa & Sastra
Selanjutnya ...
Arsip
Lokasi