Penggunaan bahasa Indonesia pada masyarakat, akhir-akhir ini harus dicermati dengan seksama dan bijaksana. Bahasa Indonesia adalah bahasa dengan marwahnya sendri mempunyai aturan dan pemaknaan sendiri pula dalam menafsirkan kata demi kata yang digunakan masyarakat dalam berkomunikasi. Adanya penyaduran kata dari bahasa lain (daerah dan asing) sejatinya membuat marwah bahasa Indonesia semakin kokoh dan sempurna tetapi tentu dengan tata aturan yang ada dalam bahasa Indonesia bukan berdasarkan bahasa yang disadur tersebut. Kondisi ini menjadi dilema ketika penggunaan bahasa saduran oleh masyarakat tetapi tidak dimaknai atau dipahami sesuai dengan konsep kebahasaan yang ada dalam bahasa Indonesia. Pada kesempatan ini  kita akan mebahas beberapa kata yang disadur dari bahasa asing tetapi pemaknaannya masih perlu dijelaskan pada masyarakat pengguna.

  1. Makna kata Jihad

Kata jihad berasal dari bahasa Arab, yaitu Al-Jihadu, yang berarti ‘perjuangan’. Dalam bahasa Indonesia, kata jihad digunakan dalam pengertian sebagai berikut.

  1. Jihad ialah usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk mencapai kebaikan manusia secara keseluruhan. Contoh penggunaan kata jihad dengan pengertian tersebut dapat dilihat pada kalmiat berikut.
  • Kita berjihad melawan kemiskinan.
  • Demi ketenteraman batin anda, berjihadlah melawan hawanafsu.
  1. Makna jihad yang lain ialah perjuangan membela agama dengan cara mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga. Contok kalimat yang mengandung kata jihad dengan pengertian ini adalah sebagai berikut.
  • Orang yang berjihad di jalan Allah adalah orang berjiwa mulia.

 

  1. Makna kata Hijrah dan Hijriah

Kata Hijrah yang digunakan dalam kalimat seperti Tahun baru Hijrah jatuh pada tanggal 2 Oktober 2016 dan Tahun 1437 Hijrah akan kita tinggalkan, tidaklah tepat. Dalam KBBI kita tidak menemukan kata hijrah dengan makna ‘nama tarikh Islam’, tetapi yang kita temukan makna sebagai berikut

  • ‘pemutusan pertalian Nabi Muhammad SAW. dengan suku bangsa di Mekah ( Nabi Muhammad SAW. menimggalkan Mekah, berpindah ke Medinah.’
  • ‘mengungsi dan berpindah’

Dalam bahasa Arab, cara yang digunakan untuk membentuk adjektiva yang bermakna ‘berhubungan, berkaitan, bertalian dengan kata dasarnya’ adalah dengan menambahkan akhiran –iy (ya nisbah) dan –iyah pada nomina.

  1. Jika kata dasarnya tergolong muzakkar (maskulin)akhiran yang digunakan umumnya akhiran –i. kata Masih, Malik, dan Arab jika diberi akhiran yang menyatakan nisbah masing-masing menjadi Masihi (Masehi) yang berarti (1) ‘yang mengikuti Isa Al-Masih’ dan (2) ‘perhitungan tanggal yang berdasarkan kelahiran Al-Masih’, Maliki yang berarti ‘pengikut’ atau mazhab yang didasarkan atas Imam Malik’, Arabi yang berarti ‘orang yang berbangsa Arab’.
  2. Jika kata dasar muannas (feminine) dijadikan adjektiva dengan pengimbuhan akhiran –iah. Kata hijrah misalnya, menjadi hijriah, yakni nama tarikh Islam yang didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW.; fitrah menjadi fitriah ‘yang berkaitan dengan fitrah’. Disamping itu, terdapat pula kata bentukan dengan akhiran –iah yang dibentuk dari kata dasar muzakkar, misalnya Muhammad, Islam, khilaf dan imsak. Muhammad menjadi Muhammadi(y)ah yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW.; Islamiah ‘yang berhubungan dengan agama Islam’; khilafiah ‘yang berkaitan dengan khilaf (perbedaan pendapat)’; imsakiah ‘yang berkaitan dengan imsak (menahan, istilah yang identic dengan puasa)’.

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa penggunakan kata hijrah yang mengacu ke penanggalan yang didasarkan pada pindahnya Nabi Muhammad SAW. dari Mekah ke Medinah tidak tepat. Bentuk yang tepat untuk itu ialah hijriah. Jadi contoh kalimat di atas seharusnya Tahun baru Hijriah jatuh pada tanggal 2 Oktober 2016 Masehi dan Tahun 1437 Hijriah akan kita tinggalkan. 

             

 Penulis: M. Yusuf, S.Ag.

Pengkaji Bahasa di Kantor Bahasa Bengkulu

 

Categories:

Tags:

Comments are closed