Si Jago Setahun

Si Jago Setahun

Si Jago Setahun adalah Tuei Kutei Anggung Cawang Lekat yang bergelar Bagindo Segentar Alam, beliau merupakan Rajo yang bijaksana dan tegas dalam menjalankan hukum adat di Cawang Lekat. Jago Setahun adalah orang yang bertubuh tinggi, besar, dan gagah. Seseorang yang sakti dan berilmu tinggi. Salah satu kesaktiannya adalah ia mampu berpindah tempat dalam satu langkah saja sehingga ia juga dijuluki Si Picang Ja’ang, setiap pijakan telapak kakinya antara yang kiri dan kanan dapat berjarak berkilo-kilo meter jauhnya.

Pada saat itu pasukan Jago Setahun adalah pasukan yang sangat disegani dan dihormati karena kekuatannya dalam berperang. Jago Setahun mendapatkan kesaktiannya itu dengan bertapa, apabila ia pergi bertapa maka ia akan bertapa selama satu tahun, apabila ia terbangun maka ia akan terbangun selama setahun. Apabila ia bertapa yang seperti tertidur, maka tidak ada seorang pun yang dapat membangunkannya, ia tidak makan dan tidak minum serta tidak akan terbangun sebelum waktunya.

Bila Jago Setahun sedang dalam masanya tertidur selama dua belas purnama seluruh pengawal setianya akan bersiap menjaga Jago Setahun dan Cawang Lekat.  Jago Setahun juga memiliki tubuh yang kebal dan tidak bisa tergores senjata tajam, ia juga tidak hangus dibakar api. Kesaktian dan kekuatannya inilah menjadikan Jago Setahun sebagai pemimpin yang mampu melindungi rakyatnya.

Masa itu daerah Marga Selupu dan sebagain besar wilayah di Rejang Lebong tidak dipengaruhi oleh kekuasaan pemerintah kompeni Inggris (EIC) yang berpusat di Bengkulu juga tidak dipengaruhi oleh pemerintah Hindi Belanda yang berkedudukan di Palembang. Kedua kekuasaan penjajah ini tidak mempengaruhi kekuasaan Depati Tiang IV baik di Lebong maupun di Batu Lebar Anggung Cawang Lekat karena dipengaruhi oleh letaknya yang strategis dan kondisi alam yang berbukit-bukit, dikelilingi hutan belantara sehingga sulit dijangkau oleh para penjajah.

Suatu ketika pasukan tentara Belanda yang dipimpin oleh Kapten De Leau membawa perbekalan untuk diantar ke Pos Belanda di daerah Keban Agung dekat Dusun Tertik, ternyata mereka dihadang dan dihancurkan oleh pasukan Depati Tiang IV. Bagindo Segentar Alam terlibat dalam pertempuran itu yang mengakibatkan seorang pembesar Belanda tewas sehingga memicu dendam di pihak Belanda untuk juga menghancurkan Depati Tiang IV khususnya Bagindo Segentar Alam.

Pasukan Belanda kemudian merencanakan penyergapan Bagindo Segentar Alam, mereka kemudian melakukan perjalanan yang cukup jauh melewati aliran Sungai Musi menuju Cawang Lekat yang terletak di dataran tinggi hulu Sungai Musi. Setibanya di sana, ternyata rakyat Cawang Lekat sudah bersiap akan kedatangan musuh. Terjadilah pertempuran sengit karena rakyat laskar Cawang Lekat cukup tangguh, mereka juga memiliki benteng alam yang kokoh dan menyulitkan langkah musuh karena tidak menguasai medan perang. Bentang alam mereka terbuat dari hutan bambu dan pohon salak berduri yang sangat rapat hingga seekor ayam pun tidak dapat melintasinya, daerah yang berbukit-bukit juga semakin mempersulit langkah pasukan Belanda ditambah kekuatan Bagindo Segentar Alam yang sangat luar biasa berhasil memukul mundur pasukan Belanda.

Kekalahan tersebut tidak dapat diterima bergitu saja oleh pasukan Belanda, mereka kemudian mengatur siasat untuk mengalahkan pasukan Cawang Lekat. Mereka kemudian mencari informasi kemudian didapatkan lah strategi untuk menunggu saat Bagindo Segentar Alam sedang tertidur dalam pertapaannya. Mereka juga mengatur siasat untuk merobohkan benteng alam Cawang Lekat yang sangat kokoh itu. Ketika tiba masanya Bagindo Segentar tertidur pasukan Belanda pun datang kembali ke Cawang Lekat. Mereka lalu menyebarkan koin-koin emas di sekitar benteng alam Cawang Lekat.

Melihat emas-emas tersebut, rakyat Cawang Lekat lalu tertipu. Tanpa berpikir panjang mereka lalu menebas habis pohon-pohon bambu dan salak yang selama ini menjadi benteng alam mereka untuk memungut koin-koin emas. Melihat jalan telah terbuka lebar pasukan Belanda lalu menyerang dengan mudah, rakyat Cawang Lekat yang sedang lengah tersebut tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti sehingga pasukan Belanda berhasil masuk ke dalam kutei. Mereka lalu menghampiri Bagindo Segentar Alam yang sedang tertidur dan mencoba mengangkatnya. Anehnya, tubuh Bagindo Segentar Alam terasa sangat berat dan seolah-olah menempel di lantai tempatnya berbaring.

Pasukan Belanda kemudian memasang banyak bilah kayu yang disusun menjadi sebuah lintasan untuk menggelindingkan Bagindo Segentar Alam menuju kapal yang mereka naiki untuk dibawa ke Palembang. Sepanjang perjalanan ke Palembang, Bagindo Segentar Alam sama sekali tidak terbangun. Konon pasukan Belanda sempat menyiksa Bagindo Segentar Alam dengan menenggelamkannya di Sungai Musi akan tetapi pada saat itu masa 12 purnamanya sudah habis dan tiba-tiba saja Bagindo Segentar Alam tersentak, ia lalu melihat keadaaan di sekelilingnya dan mengamuk habis-habisan. Kejadian ini konon menyebabkan tanah longsor dan daratan menjadi miring. Setelah menghancurkan armada Belanda tersebut, Bagindo Segentar Alam lalu melarikan diri ke daerah Jambi dan menjadi raja di sana. Konon sesekali Bagindo Segentar Alam pulang ke Cawang Lekat untuk melihat rakyatnya, ia juga akan muncul jika merasakan bumei panes yang merupakan pertanda adanya suatu kejahatan di daerah kekuasaannya. Ia akan menampakkan diri dalam wujud Harimau meskipun kadang-kadang masyarakat hanya bisa melihat jejak kaki Harimaunya berkeliaran di tengah-tengah desa.

Peneliti : Riqqah Dhiya Ramadhanty

Penutur : Sartoni

Persebaran : Desa Cawang, Kabupaten Rejang Lebong