Sumpit Tupai

Ada dua saudara yang ikut orang tuanya tinggal di huma. Adiknya bernama Bujang Kurung dan kakaknya bernama Beteri. Anak huma selalu kekurangan makanan, karenanya mereka mencari buah jambu di kebun. Mereka berhasil menemukan pohon jambu yang sedang berbuah. Besar luar biasa jambunya, ada sebesar kulak . diletakkankannya jambu tersebut di atas lantai. Jambu ini kemudian dicuri oleh seekor tupai. 

Melihat jambunya sudah diambil tupai berkatalah Beteri pada sang tupai, “Wahai tupai, adikku minta buah jambu itu tupai.”

“Tidak mau,” jawab sang tupai.

Maka ia menemui sang sumpit (selongsong bambu yang digunakan sebagai pelontar panah dengan cara dihembus).

“Sumpit-sumpit tolong sumpitkan si tupai, tupai tidak mau mengembalikan jambu adikku,” kata Beteri pada sumpit.

“Tidak mau,” kata sumpit.

Maka ia mendatangi puntung (kayu bakar).

“Puntung-puntung tolong patahkan sumpit, sumpit tidak mau sumpitkan tupai, tupai tidak mau mengembalikan jambu adikku.”

“Tidak mau,” kata puntung.

Mulailah si Beteri mencari lagi. Ia kemudian bertemu dengan api.

“Api-api tolong bakarkan si puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang Beteri.

“Tidak mau,” kata api.

Ia lalu bertemu dengan air.

“Air-air tolong padamakan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” ulang sang Beteri.

“Tidak mau,” kata air. 

Merasa tidak berkawan, menetes lah air mata sang Beteri. Namun, Ia terus berjalan dan bertemu dengan Tebat (bendungan). 

“Tebat-tebat tolong bendungkan air, air tak mau padamkan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang beteri.

Tebat pun tidak menyanggupi permintaan sang Beteri. Ia kembali berjalan, lalu bertemu dengan kerbau. 

“Kerbau-kerbau minta lumbunkan tebat, tebat tak mau membendung air, air tak mau padamkan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang beteri.

Jawaban kerbau pun sama. Ia pun bertemu dengan tandan. 

“Tandan-tandan minta tolong lecutkan kerbau, kerbau tidak mau lumbunkan tebat, tebat tak mau membendung air, air tak mau padamkan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang beteri.

Jawaban tandan pun sama,” tidak mau.”

Berikutnya Beteri bertemu dengan tikus.

“Tikus-tikus tolong eretkan tandan, tandan tidak mau melecut kerbau, kerbau tidak mau lumbunkan tebat, tebat tak mau membendung air, air tak mau padamkan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang beteri.

Si tikus pun enggan. Beteri kembali berjalan. Ia akhirnya bertemu dengan kucing.

“kucing-kucing tolong makan si tikus, tikus tidak mau menggeret tandan, tandan tidak mau melecut kerbau, kerbau tidak mau lumbunkan tebat, tebat tak mau membendung air, air tak mau padamkan api, api tak mau membakar puntung, puntung tak mau patahkan sumpit, sumpit tak mau menyumpit tupai, tupai tak mau mengebalikan jambu adikku,” kata sang beteri. “Aku bersedia Beteri. Dimana tikus berada?” jawab si Kucing. Beteri riang bukan kepalang. Ia lalu mengajak kucing menemui tikus. Kucing lalu berkata,”Hai tikus aku makan kamu kalau kamu tidak mengerat tandan!” kata sang kucing. “Ampun kucing, aku akan mengerat tandan itu.” Saat tikus menemui tandan, tandan pun meminta ampun dan mengabulkan permintaannya. Begitu seterusnya hingga semua mengabulkan permohonan Beteri. Akhirnya sang tupai pun memohon ampun karena akan disumpit, ia lalu mengembalikan jambu milik adik Beteri. Namun saat dikembalikan jambu tersebut tinggal sedikit.